This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Pages

Selasa, 06 Mei 2014

bokep


Senin, 07 Oktober 2013





Senin, 23 September 2013

ml dengan dua gadis di warnet

KUSETUBUHI DUA GADIS BELIA DI WARNET

( Like dulu baru baca )

sebelumnya saya akan memberitahu bahwa cerita sex ini terjadi sebelum saya mengenal lebih dalam soal internet. Ketika saya baru saja masuk kulian, saat itu saya masih belum begitu kenal dengan internet, dan saya masih dalam taraf pemula dan baru sampai dalam soal hardware. Cerita sex ini terjadi yang sejak berkenalan dengan seorang teman di ITK saya mulai mengenal apa itu internet. Dan saya suka sekali pergi ke warnet dan hampir tiap hari saya berada di sana. Semakin lama saya suka sekali ber-chatting ria sampai suka lupa waktu dan pulang malam hari. Sebelum memulai kisahku ini aku ingatkan agar selalu ingat dengan ceritaku. Karena hanya yang selalu memberikan cerita cerita terbaru. Langsung saja ku mulai cerita ku ini. Pada hari sabtu, saya seperti biasa suka nongkrong di warnet mulai jam 18:00, dan saya langsung mengecek e-mail. Setelah selesai saya suka browsing sambil chat. Pada saat itu hujan deras mengguyur seisi kota disertai angin. Pada saat saya membeli minuman (di dalam warnet), saya melihat dua orang gadis yang memasuki warnet. Mereka terlihat basah kuyup karena kehujanan, dan ketika itu mereka mengenakan kaos warna putih dan biru (cewek yang satunya), dan celana pendek. Dari balik kaos putih basah itu saya bisa melihat sebuah BH warna merah muda, juga sepasang payudara montok agak besar. Saya kembali ke meja dan melihat mereka berdua menempati meja di depan saya. Sambil menunggu jawaban dari chat, saya mencuri pandang pada dua gadis itu. Semakin lama saya lihat saya tidak bisa konsentrasi, mungkin karena cara duduk mereka yang hanya mengenakan celana pendek itu, sehingga terlihat paha putih mulus dan juga sepasang buah dada dalam BH yang tercetak jelas akibat baju yang basah. Pada jam 20:00, listrik di warnet itu padam. Para penjaga warnet terlihat sibuk memberitahu bahwa listrik akan segera menyala dan meminta agar netter sabar. Tetapi 30 menit berlalu dan tidak ada tanda-tanda bahwa listrik akan menyala sehingga sebagian netter merasa tidak sabar dan pulang. Sedangkan saya masih di dalam warnet dan ingin ikut pulang, tapi saya tidak bisa karena di luar hujan masih deras dan saya hanya membawa motor. Begitu juga dengan 2 gadis di depan saya, mereka sudah membayar uang sewa dan tidak bisa pulang karena hujan masih deras. Mereka hanya bisa duduk di sofa yang disediakan pihak warnet (sofa yang digunakan untuk netter apabila warnet sudah penuh dan netter bersedia menunggu), wajah mereka tampak gelisah terlihat samar-samar akibat emergency light yang terlampau kecil, mungkin karena sudah malam dan takut tidak bisa pulang. Melihat kejadian itu saya tidak tega juga, apalagi hawa menjadi dingin akibat angin yang masuk dari lubang angin di atas pintu. Saya pun mendekati mereka dan duduk di sofa. Ternyata mereka enak juga diajak ngobrol, dari situ saya mengetahui nama mereka adalah, Tuti (baju putih) dan Erni (baju biru). Lagi enak-enaknya ngobrol kami dikejutkan oleh seorang cewek yang masuk ke dalam sambil tergesa-gesa. Dari para penjaga yang saya kenal, cewek tadi adalah pemilik warnet. Saya agak terkejut karena pemilik warnet ini ternyata masih muda sekitar 25 tahun, cantik dan sexy. Cewek tadi menyuruh para penjaga pulang karena listrik tidak akan nyala sampai besok pagi. Setelah semua penjaga pulang, cewek tadi menghampiri kami. "Dik, Adik bertiga di sini dulu aja, kan di luar masih hujan, sekalian nemenin Mbak ya.." kata cewek yang punya nama Riyas ini. Kemudian berjalan ke
depan dan menurunkan rolling door. "Saya bantu Mbak," kataku. "Oh, nggak usah repot-repot.." jawabnya. Tapi aku tetap membantunya, kan sudah di beri tempat berteduh. Setelah selesai aku menyisakan satu pintu kecil agar kalau hujan reda aku bisa lihat. "Ditutup saja Dik, dingin di sini.." kata Riyas, dan aku menutup pintu itu. Entah setan mana yang lewat di depanku, otak ini langsung berpikir apa yang akan terjadi jika ada tiga cewek dan satu pria dalam sebuah ruangan yang tertutup tanpa orang lain yang dapat melihat apa yang sedang terjadi di dalam. Aku kembali duduk di sofa sambil berbincang dengan mereka bertiga jadi sekarang ada empat orang yang tidak tahu akan berbuat apa dalam keremangan selain berbicara. "Sebentar ya Dik, saya ke atas dulu, ganti baju.." kata Riyas. Aku bertanya dengan nada menyelidik, "Mbak tinggal di sini ya?" "Iya, eh kalian di atas aja yuk supaya lebih santai, lagian baterai lampu sudah mau habis, ya.." katanya. Cerita Seks Dewasa Kami bertiga mengikuti Mbak Riyas ke atas. Warnet itu terdapat di sebuah ruko berlantai tiga, lantai satu dipakai untuk warnet, lantai dua dipakai untuk gudang dan tempat istirahat penjaga, lantai tiga inilah rumah Riyas. Menaiki tangga ke lantai tiga, terdapat sebuah pintu yang akan menghentikan kita apabila pintu tidak dibuka, setelah masuk kami tidak merasa berada di sebuah ruko tapi di rumah mewah yang besar, kami disuruh duduk di ruang tamu. Riyas bilang dia akan mandi dan menyalakan sebuah notebook agar kami bertiga tidak bosan menunggu dia mandi. Ternyata notebook itu tidak memiliki game yang bisa membuat kami senang. Tapi aku sempat melihat shortcut bertuliskan duniasex, aku menduga ini adalah permainan, ketika kubuka ternyata isinya adalah cerita yang membuat adikku berdiri. Tuti dan Erni pun agak malu melihat cerita-cerita itu. Tapi yang membuat aku tidak tahan adalah mereka tidak memperbolehkan aku menutup
program itu dan mereka tetap membaca cerita itu sampai habis. Aku pun hanya bisa terbengong melihat mereka berada di kiri dan kananku. Setelah selesai membaca, Tuti merapatkan duduknya dan aku bisa merasakan benda kenyal menempel di lengan kananku. Erni pun mulai menggosokkan telapak tangannya ke paha kiriku. Sambil mereka melihat cerita yang lain, aku merasakan sakit di dalam celanaku. Aku sudah tidak bisa konsentrasi pada cerita itu, mereka semakin menjadi-jadi, bahkan Tuti membuka kaosnya dengan alasan merasa panas, sedangkan Erni membuka kaosnya dengan alasan kaosnya basah dan takut masuk angin. Aku merasa panas juga melihat tubuh mereka, sambil membetulkan posisi adik, aku mengatakan kalau hawanya memang panas dan aku membuka baju juga. Kini tangan mereka berdua dirangkulkan di tengkukku, aku semakin panas karena lenganku merasa ada dua benda kenyal yang menghimpit tubuhku dari kiri dan kanan. Akhirnya jebol juga iman ini, aku menaruh notebook itu di meja di depanku dan aku menciumi Tuti dengan nafsu yang sudah memuncak, Tuti pun tak mau kalah sama seranganku, dia membalas dengan liar. Sedangkan Erni sibuk menciumi dan menjilati dadaku. Tangan kiriku kulingkarkan pada Erni dan mulai meremas buah dada yang masih tertutup BH itu, sedangkan tangan kananku kulingkarkan di tubuh Tuti dan memasukkan ke dalam BH dan meremas buah dadanya. Erni mulai membuka celanaku dan menghisap penis yang sudah tegang itu. "Ouhh.. mmhh.. yahh.." aku mulai menikmati jilatan Erni pada kepala penisku. Tuti pun jongkok di depanku dan menjilat telurku. Aku hanya bisa pasrah melihat dan menikmati permainan mereka berdua. Kemudian Riyas keluar dari kamar dengan selembar handuk menutupi tubuh, dia menarik meja di depanku supaya ada cukup tempat untuk bermain. Riyas berlutut sambil membuka celana Tuti. Setelah celana Tuti lepas, dia mulai menghisap vagina Tuti. "Ooohh.. Ssshh.. ahh.." Tuti mendesah. Tak lama kemudian Tuti membalikkan tubuhnya dan sekarang posisi Riyas dan Tuti menjadi "69″. Aku pun sudah tak tahan lagi, segera kuangkat Erni dan membaringkannya di lantai dan membuka celananya. Setelah terbuka aku langsung menghisap vagina yang sedang merah itu. "Auuhh.. Ooohh.. Sayang.." desahan Erni semakin membuatku bernafsu. Dengan segera aku mengarahkan penisku ke vagina Erni, dan mulai menusukkan secara perlahan. Erni merasa kesakitan dan mendorong dadaku, aku menghentikan penisku yang baru masuk kepalanya itu. Selang agak lama Erni mulai menarik pinggangku agar memasukkan penis ke vaginanya, setelah masuk semua aku menarik perlahan- lahan dan memasukkannya kembali secara perlahan-lahan.
"Ahh.. ayo Sayang.. ohh.. cepat.." Aku pun mulai mempercepat gerakanku. Dari tempatku terlihat Tuti dan Riyas saling menggesek- gesekkan vagina mereka. "Auuhh.. oouuhh.. iyahh.. yahh.. sshh.. hh.." desahan Erni berubah menjadi teriakan histeris penuh nafsu. Tak lama kemudian Erni mencapai orgasme, tapi aku terus menusukkan penis ke arah vagina Erni. "Gantian donk, aku juga pingin nih.." kata Tuti sambil menciumi bibir Erni. Aku pun menarik penisku dan mengarahkan ke vagina Tuti setelah dia telentang. Ketika penisku masuk, vaginanya terasa licin sekali dan mudah sekali untuk masuk, rupanya dia telah mengalami orgasme bersama Riyas. Tampaklah Erni dan Riyas tertidur di lantai sambil berpelukan. Sedangkan aku terus menggenjot tubuh Tuti sampai akhirnya Tuti sudah mencapai puncak dan aku merasakan akan ada sesuatu yang akan keluar. "Aahh.." suara yang keluar dari mulutku dan Tuti. Cerita Seks Dewasa Akhirnya kami berempat tertidur dan pulang pada esok paginya. Setelah kejadian itu aku tidak pernah bertemu dengan Tuti dan Erni. Riyas sekarang sudah menikah dan tetap tinggal di ruko itu. Sedangkan aku masih sibuk dengan urusan kerja dan tidak pernah ke warnet itu lagi karena sudah ada sambungan internet di rumahku.
sumber

gadis sunda

NIKMATNYA TUBUH EVA

"Like dulu baru baca"

Selasa siang di bulan maret aku terpaksa berteduh di sebuah dealer motor kecil di cibubur.
hanya ada seorang gadis spg- nya. namanya eva umur 24 thn, gadis sunda yg manis. yang aku
suka dari dia adalah bibirnya yang agak besar, seksi dan manis. hampir sejam ngobrol akhirnya hujan berhenti dan aku pulang sambil meminta kartu namanya.
singkat cerita kami sering berhubungan lewat telpon. aku terus terang ttg statusku yg sdh
beristri tapi tampaknya tidak masalah buat dia, katanya banyak berteman banyak berkahnya.
tapi aku memintanya utk menghubungiku hanya siang dng alasan takut istriku salah sangka. hubungan kami terus makin akrab walau hanya lewat telpon.
ada perasaan romantis setiap kali berbicara ditelpon dng eva.
eva enak diajak ngobrol apapun
pasti nyambung. eva pun tampaknya menikmati perhatianku. walau tinggalnya tidak terlalu
jauh, aku biasa mengiriminya kartu pos yang isnya seringkali memuji suaranya, bibirnya atau
alisnya yang tebal atau yang isinya berupa ucapan terimakasih atas persahabatan unik kami.
melihat tanggapan eva yg hangat, aku yg mulanya iseng mulai berpikir kenapa aku tidak
jadikan dia selingkuhanku. tiga bln setelah pertemuan pertama, aku mengajaknya ketemuan.
kami janji bertemu di mall cijantung. rabu sore aku duduk di mcD menunggu eva, jam 17.45 gadis itu muncul. blue jeans ketat
membentuk pinggul, pantat dan pahanya. dan t-shirt ketat bertulis merk motor jepang
membungkus tubuhnya. buahdadanya terlihat sedang. padahal yang paling aku kagumi dari
wanita adalah buah dada yang besar menantang seperti rizki pritasari. tapi it's oke mumpung
eva menyukaiku.
kami ngobrol dan seperti pertemuan pertama gadis ini mmg memikat saat sedang "ribut".
sepanjang pertemuan itu eva tidak menolak sewaktu kupegang tangannya, menyentuh kakinya.
dia bahkan melap mulutku yang katanya belepotan saos.
mendapat angin aku makin yakin kalau ia mmg menyukaiku.
aku mengantarnya pulang kekontrakannya di cibubur juga (ortunya tinggal di cengkareng). eva
memintaku singgah sebentar.kuterima ajakannya.
rumahnya kecil ruangnya ada tiga seperti umumya kontrakan di jkt.
suasana romantis yang sdh tercipta sejak di mall cijantung tadi membuat udara di ruang tamu
menyesakkan dadaku. situasi rumah memancing kelakianku.
aku harus mengakhiri pertemuan ini dng kesan yang dalam.
mata eva menatapku berharap aku memulai sesuatu.
aku pura-pura mau kekamar kecil. eva mengantarku kedalam. ia berjalan didepanku.
sampai diruang tengah yg adalah kamar tidurnya, kutarik tangannya, tubuh kami berhadapan.
"kenapa mas?"
aku tak menjawab pertanyaannya, kutarik tubuhnya, tdk ada perlawanan.
kucium bibirnya, kukulum lembut, terasa aroma burger dimulutnya.
bibirnya yang seksi terasa manis.
eva mulai membalas kulumanku, lidahku menusuk menjelajahi mulutnya. tubuhku terangsang
pengakuan eva, ia belum pernah bercinta, jadinya aku merasa tertantang utk membimbing dan
memberinya kepuasan yg tak akan terlupa.
lama kami berpagut, eva menikmati pagutan panas kami. aku merasakan tubuhnya
memanas.
kulepas t-shirtnya, eva menurut.
bh eva berwarna pink, seperti yg kubayangkan susunya sedang. agak menyembul karena bh-nya
yang agak ketat. kujilati lehernya eva menggelinjang kegelian. "EHHHH...GELI MAS..." pelukan
eva mengencang. ia mendesah-desah lembut, "AAAHH.....
AAAHHHH.....tubuhnya
bergerak-gerak
erotis dlm pelukanku membuat nafsuku terus bergerak naik.
kulepas jeans-nya, eva pasrah dia bahkan membantuku melepas celananya. cd berwarna hitam,
"hhhmmm... warna kusuka, seksi..."
kubimbing tubuhnya ke kasur yg terletak diujung ruangan, (eva tdk punya ranjang)
kurebahkan tubuhnya. aku tersenyum menatapnya. eva membelai rambutku.
"aku mencintaimu eva..."rayuku menciumi wajahnya
"eva juga mas... "
aku mulai bergerilya diatas tubuhnya kujilati lagi lehernya, bagian tubuh wanita yg paling
gampang membuat membuat mereka kegelian. kutelusuri dadanya menuju belahan susunya. tanganku
masuk kebalik bh-nya. kucubit nakal putingnya, eva meringis, mencubit pundakku.
kulepas bh-nya. sekarang semua terpampang indah dihadapanku. kunikmati susu itu, eva
mengelinjang keenakan. darahku mendidih
aku turun menjilati, menciumi perutnya, kami terbawa suasan
panas. yg aku heran kok eva
membiarkan pintu rumahnya terbuka dan tdk takut ketahuan org lain. yang aku perhatikan ada
beberapa rumah lain dekat sini
aku sampai di atas selangkangannya. kutarik turun pelan cd-nya tangan eva berhenti
mremas-remas rambutku. dia seperti menunggu sesuatu.
pelan tapi pasti kulorotkan sampai cd-nya terlepas. kusergap selangkangannya dng
wajahku.
vaginanya kuoral.
sedikit terpekik eva menjambak rambutku. jambakan eva membuatku bergairah.
kuisap, jilat bibir vagina dan klitorisnya. lidahku menelusup masuk keliangnya.
eva menggelinjang, mengejang. dan bergetar bergantian desahannya berubah menjadi erangan
cepat.
"EEENNNGGGHHHHH.........
RRRRRR
RGGGGGGHHHHHHHHH......
MASSSS........ OGGHHH...." nafasku memburu, vagina eva terasa gurih. tubuhku ikut bergetar. nikmatnya vagina ini
rasanya lebih nikmat dari vagina istriku yg mulai longgar setelah melahirkan.
dng sigap kubuka semua pakaianku, sekarang akupun telanjang bulat.
kaki eva menjepit-jepit kepalaku. gadis ini terangsang hebat. tapi rasanya tidak adil kalau
ia terbang sendiri.
kuputar tubuhku menjadi gaya 69. ******ku yg tegang mengacung di wajahnya. eva shock
sewaktu melihat ******ku, ia terdiam, mungkin tdk tahu harus melakukan apa.
"pegang terus diremas sayang" ajarku.
agak lama baru eva mau meremas-remas penisku. enak ada sensasi nikmat menyerangku. rasanya
lebih nikmat dr pada kuremas sendiri atau istriku yg meremasnya.
pantatku bergoyang mengikuti gerak jari-jari eva. lama- kelamaan remasan eva makin pintar dan
lincah. ******ku menegang terus dan terasa panas.
kuteruskan oralku di vaginanya, eva makin semangat memaini batang kejantananku. vaginanya
basah oleh liur dan lendir.
aku sendiri tidak tahan lagi, "isap sayang..." pintaku dng nada memelas. mungkin dlm keadaan
fly, eva menurut saja, dilahapnya ******ku.
pertama agak pelan ragu, tapi kemudian eva jadi buas.
aku sulit menggambarkan rasa apa yg sedang menyerang tubuhku. luarbiasa. kami berpacu saling
memuaskan. gadis itu tdk perlu diajar banyak utk menikmati anugerah seks ini.
******ku terasa penuh terasa maniku mulai mengaliriku batangku. sesaat gerakan eva menggila
dan tangannya berhenti meremas ******ku. dia akan orgasme.
kuhentikan permainan binal kami. kuputar tubuhku ke posisi tradisional, eva tampaknya
keberatan.
wajahnya kelu nikmat. "jangan berhenti mas...." suaranya berat. nafasnya tersenggal.
"kenapa sayang...?" enak ya..?" godaku
eva mengangguk malu sambil menggigit dadaku.
aku tersentak, "jangan sayang nanti dilihat istriku",
tapi terlambat bekas merah halus tergambar didadaku.
"kubalas kau.." kuisap belahan susunya, keras.. cupang merah kini menghiasi susunya.
"kita harus bercinta sebelum cupangmu hilang" "kalo tidak ada bencana yg bakal menimpa kita"
kataku.
"Ngarang.."
sambil agak menindih tubuhnya, kubelai rambutnya.
"bolehkah perawanmu untukku sayang?"
"mmgnya eva masih perawan skrg mas?" wajahnya agak heran.
"vaginamu dioral tdk berarti keperawananmu hilang" "tdk ada darah, yg ada hanya lendirmu"
eva memelukku, "aku suka pada mas sejak pertemuan pertama dan tiga bulan ini telah jatuh
cinta padamu mas".
"sekarang aku telanjang dihadapanmu, semua milikmu mas"
"aku sdh beristri" kataku
"aku tidak cemburu padanya" jawabnya polos.
inilah wanita, mereka memberi seks agar mendapatkan cinta. sedang pria memberi cinta utk
mendapatkan seks.
kuciumi wajahnya, eva membalas. birahi kami kembali bangkit. kulit kami bergesekan membawa
sensasi nokmat.
susunya hangat lembut dan kenyal menggosok dadaku.
"OOOOGGGGHHHHHHHHH....."
aku mengerang nikmat
kami kembali tenggelam dlm kemesuman.
eva mengerang sewaktu jariku menusuk vaginanya yg banjir. kukocok tdk terlalu dalam, aku tdk
ingin merobek selaputnya, biar ******ku yg merobeknya. "MAS..... ENAKKKK... suaranya lirih.
tubuh eva mmemanas, akupun mendidih.
kutuntun tangannya memegang penisku. "bantu mas masuk ke vaginamu sayang.."
eva meremas ******ku dan mengarahkan ke vaginanya.
alat kelamin kami bersentuhan. kepala batangku menyentuh bibir vaginanya.
inilah pertamakali kami seutuhnya bersatu.
kudorong masuk ******ku yang mengeras seperti batu.
mata eva terpajam sambil menggigit bibirnya.
pelan... pelan... tertahan. vagina yg basah dan sdh terbuka itu masih sempit utk di masuki
kutarik keluar kemudian masuk, terus berulang
"AAAGGGHH...'AAAGGGHH"
"AAAGGGGHHHH" eva berteriak tertahan setiap kali ******ku mengocoknya.
"SAKIT MAAASSS..."suaranya bercampur sakit dan enak
"MAS LEPAS"
"JANGANNN..." tangannya menahan pantatku
terus kukocok, pantatnya bergerak maju mundur.
bercak darah segar menempel di ******ku. akhirnya aku mendapat keperawanannya.
lewat 5 menit..."SLEEEPPP...." penisku tertanam.
"OOOGGGHHHH...."nikmatnya
penisku tertanam, dinding nya mengendut hangat, sebisa mungkin
kutancapkan ******ku sampai menyentuh dasar liangnya.
liang eva sempit tapi dalam, penisku yg panjangnya sedang saja sekitar 15-16 cm tenggelam
semua.
tubuh eva mengejang bergetar,
ia menggigit lagi dadaku kali ini agak dekat leher. tapi krn
sedang fly aku tidak peduli.
setelah beberapa saat kami meresapi setiap butir kenikmatan. aku mulai mengocok vaginanya.
kami berburu dalam nafsu birahi. aku seperti seorang joki yang duduk diatas kuda. sementara
eva menggelepar-gelepar seperti ikan kehabisan air.
kamar eva penuh dengan bau mani, nafas yg memburudan erangan.
"PLAKK...CEEPLAK...CEPLAK..."
suara air dan kulit bertepukan
"OGGH...OGH..OGH.. hanya itu yg keluar dr mulutku berulang ulang. pikiranku tersumbat
tubuhku melayang kesurga.
eva tambah membuatku bersemangat mencabulinya dengan suaranya yang merengek, mengerang
nikmat. berkali-kali ia menceracau tak karuan.
"HHOOOOOOGHHH........
MMMAAAAAS S.... EENNAAAKKK....
SAAA...KKKIITTT...
"EEvVV... LLAAGGIII........" "NNNNNNNGGGGGGGGHHHHHHH
........"
setelah 10 menit yg rasanya seperti sepuluh thn. tubuh eva mengejang terdiam, suaranya
tersendat-sendat,
"EGH...EGH...EGH..." eva memelukku erat.
eva hampir sampai. kupercepat
kocokanku tubuhku ikutan bergetar hebat.
terasa maniku mengaliri ******ku, sebentar lagi aku akan meledak. rasa nikmat menjalar dari
batang ******ku kepaha sampai ujung jariku, mengalir kesekujur tubuhku. inilah rasa yg
sampai skrg tidak bisa dijelaskan dan tak bernama.
geli, nikmat, ingin menangis, lemas bercampur aduk.
kemudian aku tak bisa bergerak, tubuhku kejang otakku berhenti bekerja.
eva melenguh panjang, "EEENNNNGGGGHHHHHH..............
..."
akupun menyusulnya, "EENNNGGGHHHHHHHHH..........."
kami orgasme bersama.
kami berpelukan. aku tetap menindihnya tak ingin mencabut senjataku dari liangnya.
kuseka keringat di wajahnya, wajahnya tersenyum manis memencarkan kenikmatan yg tiada tara.
"terima kasih sayang",Kau wanita yang hebat" "kau membawaku kesurga", kukecup keningnya
"mas aku cinta kau..jangan tinggalkan aku"suaranya lemah
setelah kejadian malam itu, aku menunggu utk menidurinya lagi.
sumber

cerita seks dewasa

Semalam Dengan Lina

JANGAN LUPA LIKE DAN SHARE YAH

Saat usia TK, aku pernah memergoki kedua orang tuaku 'menunaikan' tugas' rumah tangga, karena tempat tidurku hanya terpisah olehkain gorden dengan kedua orang tuaku.Pada usia SD, hobby mengintip orang mandi telah membakar otakku untuk lebih 'encer'. Sampai kemudian sejak SMP pelajaran 'mempermainkan jari' telahku lampaui dengan penuh keberanian dan kenekadan setiap kunaiki kendaraan umum, gara-gara hobby baruku nontonbokep.Baru usia SMA, seorang teman menertawakan ketololanku karena belum pernah melakukan onani dan hanya mengandalkan mimpi basah. Sementara adik-adik kelas antri untuk menjadi mangsaku (mengingat saat itu aku aktif sebagai ketua OSIS).Dan akhirnya keperkasaanku terjajal setelah lulus SMA. Ketika sekolah di Selandia dan Belanda, pengalamanku bertambah sedikit demi sedikit sampai akhirnya menjadi co- pilot dan ber- advontur di pelosok negri.Salah satu kisahnya adalah berikut ini:Ini adalah kali ke lima aku mendapat schedule 5 hari Ambon-Ternate.Kali ini capt. Frank yang hobby bobok masih menjadi bosku, didampingi seorang pramugari montok bernama Yuni dan pramugara geblegbernama Ardi.Seperti biasa hari pertama adalah hari perkenalan antar crew.Capt. Frank orangnya gempal tapi funky, terkenal jago 'cari' cewe kepulauan di kalangan senior.Ardi seorang pramugara senior yang gak kalah gila dengan para captain 'girang'.Yuni pramugari senior berwajah manis bertubuh montok karena pakai spiral sebagai pengaman kalo terjadi 'insiden'.Sementara aku hanyalah ampas bila dibandingkan mereka bertiga pada saat itu.Malam kedua sehabis last landing, om Frank kutemui sedang ngobrol dengan petugas restaurant hotel Ambon Manise, sembari menungguketiga anak buahnya makan malam bersama. Lima menit kemudian kedua rekan lainnya menyusul kami.Kami dinner diselingi gelak tawa sembari ngobrol tentang pengalaman- pengalaman adult selama tugas terbang, sementara aku cuma menjadi pendengar yang 'memendam' perasaan.Demikian juga schedule hari ketiga.Pada malam keempat nampak kejenuhan mulai menggelitik kami berempat. Namun nampaknya si captain dan sang pramugara telah memiliki jam terbang cukup banyak untuk menyelesaikan masalah mereka masing-masing.Yuni nampaknya juga tak berminat untuk merasakan kegerahan merekaberdua, hal ini nampak sekali karena selama tiga hari ini Yuni lebih lengketpadaku, maklum doski mending milih sasaran yang lebih 'empuk' kalo terpaksa.Hal ini diperkuat ketika pada malam terakhir (ke 5) Yuni semakin berani mencari kesempatan ngobrol berdua denganku. Memang aku nggak good looking amat, cuman kalo itil udah gatel, apa maudi kata. Begitulah kira-kira opininya di satu kesempatan kami berdua.Malam itu, pukul tujuh, Yuni menelepon katanya pengin ngobrol. Kucari berbagai dalih agar itu tak terjadi. Yuni memanggilku ke kamarnya, biar lebih enak ngobrolnya karena aku gak mau dimasukin ke daftar gosipnya (prisipku: sex ok - stewardesses no) aku tantangin biar dia ke kamarku.Eh dasar udah kebelet kali, Yuni menyambut tantanganku, setelah menutup telepon, doski mengetuk pintu kamarku.Sekarang aku yang panik, Yuni masuk kamarku dengan daster mini. Kakinya mulus berbentuk indah, kemontokannya memang tak bisa disangkal.Tergoda juga sih, but prinsip is prinsip. Bagiku tinggal sontok dan tanpa tawar lagi. Namun keberuntungan masih di pihakku, telepon berdering. Ternyata co-pil dari pesawat lain yang ternyata temenku, juga nge-RON (Rest Over Night) ditempat yang sama. Namanya Hari."Jul....lagi ngapain lu?"" Bengong....kenapa?&q uot;"Bantuin gue dong !""Bantuin ? Emang kenapa?" lalu si Hari cerita, katanya dia pas jalan-jalan kenalan sama tiga ABGsetempat, manis- manis, tapi Hari kewalahan mengaturnya. Hari kemudian minta bantuanku untuk menemaninya."Thanks god..." batinku. Karena aku akhirnya punya alasan cabut dari terkaman macan, dan dengan sedikit 'speak nabi', aku terlepas dari cengkraman Yuni, yang kemudian kembali ke kamarnya dengan muka di tekuk.Namun membantu tak teman tak selamanya berjalan mulus. Singkat cerita, kami (aku & Hari) berhasil di kadalin sama tuh tiga ABG lokal Ambon, tapi aku tak terlalu sekecewa hari yang telah bermimpi sebelum tidur.Kembali ke hotel ku telepon Yuni, namun dengan suara malas Yuni mema'afkanku telah meninggalkannya dalam keadaan horny tadi. Yah, padahal aku udah sedikit berubah pikiran sebenarnya.Kututup telepon, kuturun kebawah hotel, dimana ada bar dan karaoke di sana. Kupikir ada baiknya melepaskan ketegangan, karena besok hari terakhir di Ambon (setelah itu aku belum pernah ke ambon lagi hingga sekarang Ambon dilanda tragedi).Di tempat karaoke, aku datangi bartender yang juga merangkap petugas hotel. Namanya Alex dan kami biasa bertukar cerita tentang kehidupan malam.Menjelang jam dua belas, sudah empat lagu kunyanyikan bergantian dengan pengunjung lainnya. Jam satu, karaoke akan tutup. Karenabir, rasa kantukku terlanjur lenyap. Jam setengah satu Alex mengahampiriku,"Jul""Da-pa lex?""Liat cewe sebelah kananmu, tempat duduk paling ujung !""Iya, kenapa lex?" tanyaku setelah melihat seorang wanita bertubuh sintal, berbaju rapi bercelana jeans ketat."Katanya, dia tertarik kaos kamu, dia nanya itu kaos Joger apa bukan..." emang kebetulan, aku memakai kaos Joger hijau tua bertuliskan : " ma'af anu saya cuma 'L' ""Cakep nggak lex? dari sini terlalu gelap" Alex hanya mengankat dua jempolnya."Kamu kenal lex?""Dia sering kemari jul..., katanya baru sekali liat kamu, kalo boleh kaosmu mau dia beli, katanya kaos Joger cuma ada di Bali....""Lah, ntar gua pake apa lex ?"Alex diam menunggu reaksiku."Trus bilang apalagi lex ?""Dia nanyain nama kamu sama asalmu.....katanya mukamu seperti orang jawa..""Kamu kasih tau aku kerja dimana?""Beta bilang aku belum kenal juga jul...""Ok...kali ini mau tolongin aku gak lex?""Pasti jul, asal jangan lupa temen aja..., apa ...
...yang beta bisa bantu?""Tolong kasih nomor kamarku ke dia, suruh dia ambil sendiri kaosnya dikamarku, gak usah bayar...""Ok bos.!""Dan....""Ada lagi..?""Kasih aja nama asliku, tapi bilangin kalo aku gigolo dari jawa""Udah..?""Udah itu aja, sekarang aku mau ke kamar dulu, persiapan...." Alex nyengir, tapi dia paham luar kepala akan maksudku.Setelah meyelipkan beberapa lembar uang tip dan membayar bir, aku kembali ke kamar.Tiba di kamar, semua perabot yang berhubungan dengan profesiku kumasukkan ke dalam lemari, dari sepatu, koper, topi, dasi, ID...pokoknya ruangan kurapikan dengan kilat agar terkesan aku sedang berlibur di Ambon.Dan dugaanku benar, telepon berdering. Setelah kuangkat terdengar suara merdu seorang wanita... (kalo malem suara wanita ga'ada yang jelek pokoknya... heh... heh...)"Kaosnya udah dibungkus dik..?""Eh...udah mbak...kirain ga beneran..." jawabku menangkap isyaratnya.."Kamar 306 kan?""Betul mbak..""Saya ke sana?""Saya tunggu mbak...""krekk!" telepon ditutup.Dag-dig-dug juga aku nunggu saking tegangnya...Sengaja kubuka pintu sedikit, tak sampai 2 menit, pintu kamarku terbuka dengan pelan. Nampak seraut wajah cantik melongok kamarku."306?""Masuk aja mbak..."Wanita cantik berumur sekitar 28 itu masuk. Rambutnya dipotong sagy, lurus hitam sepundak, matanya sendu sedikit kubil, hidungnya bangir, mulutnya mungil indah, lehernya jenjang, kulitnya putih, dadanya nampak penuh, sekitar 36 B.Tubuhnya busyet dah pokoknya.Pinggangnya ramping, kakinya indah...Sejenak aku tercekat, ada sedikit sesal akan membohongi manusia secantik ini, ada juga remang dibagian belakang leherku."Jangan-jangan bukan manusia..." pikirku"Halo...?", suaranya menyadarkanku"Eh...ng...iya mbak...ini.......&qu ot; jawabku agak parau sambil menunjuk kearah bungkusan kaos Joger."Kepalang tanggung" begitu pikirku pada akhirnya."Nova...""Lina..."Tangan lembutnya menyambut tanganku yang mendingin."Duduk dulu mbak.." kataku sok santai sambil melangkah ke arah kamar mandi.Di kamar mandi aku menenangkan diri, kutarik napas dalam- dalam."Sabar jul..." begitulah kira-kira kata hatiku.Sekitar dua menit kemudian darahku sudah mengalir lebih tenang. Ketika keluar dari kamar mandi, Lina sedang menelepon.Lina menoleh, menutup telepon dan tersenyum."Siapa lin?""Ngga ada suara, telepon kaleng kali"Aku tersenyum kecut, "wah pasti si yuni" pikirku."Udah makan?"Lina mengangguk.Kuambil dua kaleng green sand dari kulkas kecil, dan kusodorkan rokok A mild menthol.Lina mengambil sebatang rokok, dan langsung menyalakannya.Hal selanjutnya, kami bercerita tentang pengalaman kami. Ternyata Lina adalah seorang wanita panggilan khusus tamu penting hotel.Tarifnya lumayan tinggi meski masa itu belum jaman likuidasi. Bercerai di usia 22 dengan satu anak laki-laki berusia tiga tahun.Keturunan china campur manado.Malam itu kebetulan tidak ada "tamu penting" katanya.Lalu Lina bercerita tentang riwayatnya mencari nafkah over night seperti ini.Untuk mengimbanginya, aku mengarang cerita tentang seorang gigolo muda yang belajar memulai profesinya di Bali, yaitu aku sendiri.Kuceritakan saat itu aku baru berlibur ke ambon sekalian ke rumah teman lama.Maksudku baek. Setahuku, Lina mengajak bertukar cerita karena telah diberitahu alex kalo aku seorang perek lanang."Nov, aku nunggu pagi di sini ya ?!""Tenang aja lin.....anggap aku pacarmu.."Lina mecibir."Kalau cape tiduran aja lin...""Kamu aja nov, tanggung udah jam tiga, jam lima aku pulang koq.."Aku tersenyum, sekarang aku melangkah ke arah tempat tidur, " ya udah, aku aja yang selonjorin kaki, sory ya aku duduk di tempattidur"Lina tersenyum terus menunduk. Kulihat pipinya memerah.Kugeser dudukku. Kami saling berpandang sejenak, lalu kuberi isyarat dengan mata agar Lina duduk disebelahku. Dengan pelan Lina beranjak ke arahku.Mukanya tambah memerah, menambah debaran di hatiku.Tiba-tiba dengan tak kuduga Lina melepaskan bajunya.."takut kusut kalo pulang nov...."Kututupi mata takjubku akan keindahan tubuh bagian atasnya yang kini hanya mengenakan BH hitam tipis.Tampak dua belahan itu tak tertampung dengan sempurna dan sedikit menyembul di sana-sini.Lina masih menunduk saat sisi pantatnya menyenggol pinggangku."Ada yang lain lagi yang kaupikirkan..?" tanyaku agak bergetar.Lina menggeleng lembut."Apakah pikiran kita sama?"Kali ini Lina mengangkat wajahnya mencoba menatapku.matanya..... akh... indah sekali....Kudekatkan mukaku perlahan, mataku tak pernah lepas dari matanya. Lina hanya memiringkan sedikit kepalanya. Bibir kami saling menyentuh. Melebur dengan lembut, lalu menghangat...Kuraih tangan Lina, kurangkulkan ke leherku, bibir Lina semakin hangat..Kuraih pinggang Lina, kutarik sedikit kebawah hingga rebah tanpa melepaskan pagutan kami..Kini bibir Lina semakin aktif ...Kulepaskan pagutan, Lina terkejut menatapku, lalu kusambut lagi dengan ciuman yang lebih menggelora, lidah kami bergelut dan menari di dalam...Saat panas mulai hinggap, kutarik tubuhnya dengan pelan hingga Lina duduk di pangkuanku..Kini Lina yang melepaskan ciumannya terlebih dahulu, matanya terbalik memutih lalu kepalanya mendongak penuh, dengan cepat kusambut leher jenjangnya... putih dan harum..Kujilati dengan napas agak memburu...Lina melenguh...Badannya menngelinjang..Jari-jari tanganku dipunggungnya mulai mencari tali pengikat BH nya, dan berhasil...Kini permainan benar- benar dimulai....Sambil mengatur nafas jilatanku menurun ke arah dadanya, lidahku berputar-putar disekitar putingnya yang pink kehitaman...Tubuh Lina bagai menari dipangkuanku, pantatnya mulai bergoyang dengan liar...Sampai akhirnya, pertahanannya bobol saat lidahku berekreasi di putingnya...Menekan, memutar, menghisap.... menarik-narik kecil.....Tiba-tiba dengan cepat Lina ...
...mendorong dadaku dengan kuat...Aku sampai terkejut, posisiku terlentang kini Lina di atasku...Sekarang matanya tak sendu lagi, dengan agak kasar Lina menarik kaos ku ke atas, setelah terlepas, lidahnya langsung memburu puting susuku yang mungil...Menjilati dadaku yang agak kerempeng..Menjilat-jilat seputar pusarku...Tanganku tak bisa kugerakkan dengan leluasa, kedua tangan Lina mencengkeramnya, bagai sedang memperkosa.."Ssst... jangan bergerak dulu..." begitu bisiknya.Lalu Lina berdiri di tempat tidur, dengan agak terburu dia loloskan celana jeans ketatnya...Sengaja mataku agak kusipitkan agar tak terlihat terlalu terpesona akan keindahan tubuhnya, dan yang tak kalah indah adalah momen saat celana dalam hitamnya diturunkan...Striptease dimanapun akan kalah dengan apa yang kulihat barusan....Lina jongkok. Kini dengan pelan, layaknya memang telah berjam terbang tinggi, Lina menarik resleutingku dengan pelan, namun sigap sekali saat menarik lepas blue jeansku..Nampak sekilas kilatan matanya yang cerah saat melihat apa yang ada di balik GTman ku...Dilepaskannya cd-ku sebatas paha, diarahkannya ke arah mulut untuk gerakan wajib BF (sepong)...Bagaikan mengulum pindy pop ukuran jumbo, Lina membuat mataku kini yang terbalik memutih... (kalo kerasa melek cuman ga liat apa- apa berarti kan itemnya ga keliatan...)Lina mengurut-urut kepala kontholku dengan bibirnya (yang aku heran, bibirnya tipis, tapi rasanya tebal bukan main...)Belum puas memperlakukan jagoanku bagai ice cream, kini Lina menyedotnya, tak sekedar menghisap lagi...Sampai akhirnya mulutnya penuh dengan pejuhku. Lina menelannya, lalu membersihkan mulutnya.Kini giliranku, tanpa skenario, Lina telah merebahkan tubuhnya.Kuraba pahanya, kujilati dengkulnya, kubalik tubuhnya.Kutarik sedikit pinggangnya hingga menungging lalu kuciumi pantatnya, Lina terus menggelinjang.lenguhannya menambah semangat juangku...Kedua jempolku membuka belahan pantatnya..Kuciumi urut dari paha ke atas ke arah pantatnya, lalu sampai ke duburnya...Kujilati duburnya...Lina mengerang beberapa kali...Kualihkan tanganku ke vaginanya...Kuelus-elus sambil menjilati lubang anusnya yang sangat bersih...Lina membalikkan tubuhnya, rambutku dijambak ditarik ke arah vaginanya...Geliatnya berhenti sejenak saat mulut mulai menciumi paha bagian dalamnya.Kepalaku dibenamkan ke arah mekinya, aku bertahan..Kujilati sekitar memeknya...Baru disitu aku mengamati itilnya..maybe, it's the biggest clito i've ever seen....so far... ya,Kelentitnya berwarna merah daging mentah, besar sekali, benar- benar menyembul jelas untuk ukuran itil yang biasanya....Sementara napas Lina sudah tak karuan...Kasihan....Kini lidahku kujulurkan, mengarah kelentitnya yang luar biasa besar, sata kujilat pertama kali, Lina menjerit tertahan...Tubuhnya sangat tegang lalu mengendur...Tiap kujilat tubuhnya mengeras, dengan gemas kukulum kelentitnya, setelah amblas dimulut kumainkan dengan lidah...Kepalaku dicengkram dengan kuat, sesekali kusedot- sedot lalu jilat, ambil napas, dan Lina semakin menggelepar.Bodo amat dengan berapa kali dia orgasme...Saat itu Lina telah membanting-banting kepala dan pantatnya ke kasur, tangannya mencengkram kencang kepalaku, sementara keringattelah membasahi tubuh kami berdua beberapa saat kemudian, kontholku yang telah gemas terasa berdenyut- denyut meminta bagian.Kali kesekian Lina mengerang kutarik tangannya agar melepaskan kepalaku..Akupun sudah tak kuat menahannya...Tatapan Lina bak macan saat melihat kontholku siaga satu di depan lobang surgawinya..Tangannya memegang erat tempat tidur, perlahan dengan napas tersengal- sengal kakinya diangkat ditariknya sebuah bantal, ia taruh di bawah pantatnya.Tampak jelas kini lubangnya telah menganga.. menahan rindu.... kutekan sedikit pahanya kearah dadanya. Kusorongkan kontholku dengan pelan dan jantan baru menyentuh bibir luar, Lina sudah mengerang dan tubuhnya menegang...Namun pantatnya tetap tabah menyangga lobang senggamanya...Saat setengah masuk, Lina berhenti bergerak, matanya jadi sendu kembali. Tatapannya jauh masuk ke alam mayaku.Dengan sedikit hentakan, aku masuk, mata Lina mendelik, mulutnya terbuka tapi tak bisa berteriak, perlahan kuputar, kuaduk, kukocok dengan pelan....Lambat laun Lina mulai mengikuti irama...Saat irama telah sama, bagian bawah tubuh kami seperti senyawa lalu tenggelam bergoyang semakin cepat semakin cepat, lalu pelan lagi...Kami tak mengganti posisi...Dengan satu posisipun kami telah melanglang berbagai buana pagi itu.Setelah klimax kami tetap berpelukan, penisku masih dalam pelukan vaginanya yang penuh cairan...Terasa punggungku sedikit perih...Nampaknya kuku lina menggoreskan kenangan disitu...Ada beberapa menit kami melebur dalam nafsu yang mulai terasa hangat dihati..Kami berpelukan lama dalam posisi ini...Kubiarkan Lina menikmati buaian sisa orgamesnya sampai kemudian kubalik posisi agar dada Lina agak lega, kubelai rambut Lina yang basah oleh keringat, wajahnya sayu dengan sisa- sisa kepuasan."Jam lima kurang lima lin...."Lina tersenyum dan kami bangkit dari tempat tidur...Di bath-up kami berendam berpelukan, Lina kudekap didepanku, kami tak banyak bercakap lagi sesudah itu...Pukul lima seperempat kami keluar dari kamar mandi...Setelah memakai pakainnya Lina memelukku erat seakan tak ingin dilepaskannya.Persis setengah enam, Lina melangkah ke arah pintu setelah sebelumnya memagut bibirku cukup dalam dan lama...Dengan anggukan halus kulepas tatapan mata Lina saat keluar dari pintu kamarku..Di tangan kirinya Lina menjijing tas plastik berisi Joger.Aku tersadar ketika dering telepon memecah lamunanku, terdengar suara captain Frank disana,"Kamu ikut pulang nggak?""Lima menit lagi capt", kataku kosong.Setelah berpakaian lengkap, aku turun ke lobby, ternyata mereka berempat telah menungguku check out.Di perjalanan menuju bandara, Captain Frank berbisik " lembur ya?" (lembur = lempengin burung), aku tersenyum kaget, rupanya yang semalam meneleponku adalah si Captain.TAMAT-----sumber

Minggu, 20 Januari 2013

kata kata mutiara cinta

Cinta selalu memberi bahagia dan sakit di hatimu. Bahagia karena bersama yang kamu cinta. Sakit karena tahu bahwa kamu begitu rapuh.
Terkadang, meski telah terluka, kamu memilih tuk tetap bertahan dengan harapan dia yg kamu cinta akan berubah dan akhirnya tulus mencinta.
Cinta memang mampu membuat seseorang menunggu lama. Tapi kadang kamu harus mencintai dirimu juga, dengan menyadari kapan waktunya tuk pergi.
Ketika kamu mencintai seseorang, beranikan dirimu tuk mengungkapkan. Jika tidak, beranikan juga dirimu tuk melihat dia dicintai orang lain.
Cinta adalah untuk bahagia. Ketika cinta menjadi penyebab air mata, itu adalah jalan menuju bahagia. -@beehavior
Kamu tak akan bisa membenci jika tak mencinta, namun membenci tak ada gunanya. Jangan biarkan cintamu menjadi benci.
Dalam cinta, jangan hanya menunggu orang yg tepat menghampiri hidupmu. Lebih baik jadilah orang yg tepat yg mennhampiri hidup seseorang.
Cinta itu sebuah permainan yang dimainkan oleh dua orang dan dimenangkan oleh dua orang tersebut.
Cinta itu bukan apa yang dipikirkan oleh akal; tapi cinta adalah apa yang dirasakan oleh hati.
Mencintai demi dicintai itu sifat manusia, tapi mencintai demi mencintai itu sifat malaikat.
Kerjakan apa yang kau cintai dan uang akan mengikuti.
Hidup telah mengajarkan kita bahwa cinta tidak berisi "saling memandang", tapi cinta berisi "bersama-sama melihat satu arah yang sama".
Syukurilah hidup, karena hidup memberimu kesempatan untuk mencintai, bekerja, bermain dan memandang bintang-bintang.
Cinta dan telur itu sangat baik jika keduanya masih segar.
Cinta bisa membuat waktu terlewati, dan Waktu pun bisa membuat cinta terlewati.
Seorang wanita yang berpura-pura menertawai cinta itu seperti seorang anak kecil yang menangis di malam hari karena ketakutan.
Anak-anak membutuhkan cinta, khususnya ketika mereka tidak layak mendapatkannya.
Seorang pria yang mencoba melupakan perempuan, berarti ia tak pernah mencinta perempuan tersebut.
Lebih baik pernah mencitai dan pernah kalah (dalam cinta), daripada pernah membenci dan menang (akan cinta).
Lebih mudah mengubah persahabatan menjadi cinta, daripada mengubah cinta menjadi persahabatan.
Kesunyian adalah seorang manusia tanpa cinta.
Cinta dapat mengobati patah hati, kesialan, atau sebuah tragedi. Cinta itu sahabat abadi.
Cinta tidak memiliki apapun yang ingin kau dapatkan, tapi cinta memiliki semua yang ingin kau berikan.
Tidak ada seoarangpun orang yang jatuh cinta merasa bebas, atau ingin bebas.
Ingatlah bahwa cinta dan prestasi yang besar melibatkan resioko yang besar pula.
Terkadang cinta yang baru malah datang dari kawan lama. Terkadang kekasih yang baik adalah orang yang selalu ada untuk kita.
Hati yang mencinta itu akan selalu awet muda.
Dicintai itu bermakna "Hidup abadi di hati seseorang".
Kita hanya bisa melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar.
Kita mungkin memberi tanpa mencintai, tapi kita tidak akan mencintai tanpa memberi.
Tempat yang paling kita cintai adalah rumah; rumah dimana kaki kita bisa saja meninggalkannya, tapi hati kita tak bisa melupakannya.
Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya; dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.
Segala hal itu akan indah jika kita mencintanya.
Cinta seharusnya jadi kendaraan yang membawa kita bepergian tanpa batas.
Sangat tidak mungkin mencintai dan sekaligus menjadi bijak.
Cinta sejati adalah ketika hatimu dan pikiranmu mengatakan hal yang sama.
Cintailah tetanggamu seperti mencintai dirimu sendiri; tapi pilihlan (baik-baik) tetanggamu itu.
Kita tidak akan tahu rasa cinta kedua orangtua kita (terhadap kita), sampai kita menjadi orang tua).
Hal yang paling penting dilakukan di dunia ini adalah mendapatkan makanan, minuman dan seseorang yang mencintaimu.
Cinta melihat melalui Teleskop, sedang "cemburu", melihat melalui mikroskop.
Setelah meneliti orang yang dicintai dan orang yang tidak dicintai, kami menemukan orang yang dicintai jarang sekali mencoba menipu orang lain.
Di mana ada cinta yang besar, pasti selalu ada keajaiban
Lebih baik keliru mencintai daripada tidak pernah sama sekali merasakan cinta.
Atasi setan yang bernama "CINTA".
sumber

Rabu, 26 Desember 2012

cerita seks

Zina Dengan Adik Ipar

Amir bersiap sedia untuk keluar menjemput Mona iaitu adik iparnya di perhentian bas. Secara kebetulan isteri dan anak anak Amir tiada di rumah kerana menghadiri satu majlis jamuan. Inilah satu satunya peluang untuk mendampingi Mona tampa sebarang gangguan.

Mona belum lagi berumah tangga, umurnya baru 18 tahun. Midah, kakaknya yang juga isteri Amir berumur 38 tahun, dan dah punya dua orang anak. Amir sendiri sudah berusia 45 tahun.

Amir memerhati ketibaan bas Mona. Tak berkedip kedik Amir meneliti pergerakan adik iparnya. Mona memakai blaus merah dan berkain yang berbentuk gaun labuh yang agak longgar. Desiran angin yang bertuip membuatkan kainnya itu terpekap pada jaluran tubuhnya. Pamiran yang sebegitu rupa telah menyebabkan pelir Amir berdenyut denyut di dalam seluarnya. Hasrat yang berunsurkan ciri cirimaksiat mulai bersarang di dalam kepala Amir.

Mona bergerak masuk ke dalam kereta dan duduk di kerusi depan bersebelahan Amir. Dalam perjalanan pulang, Amir mula buat hal. Memang pun selama ini dia ada menaruh hajatnya tersendiri yang terhadap Mona. Cuma Mona aje yang tak melayan sangat. Kalau mengikut potongan badan, Mona memang cukup seksi.
Raut wajahnya jauh lebih menarik, jika dibandingkan dengan Midah isteri Amir itu. Amir telah berkawin dengan Midah semata mata atas desakan keluarga.

Belum pun sempat menghidupkan enjin keretanya, Amir merangkul Mona lalu bertalu-talu mencium pipinya. Mona seolah olah terkejut dan kaku tak dapat berbuat apa-apa, melainkan terpaksa membiarkan Amir berbuat begitu. Inilah peluang terbuka bagi Amir untuk mengoda Mona. Inilah masa yang dinantikan untuk memerangkap Mona yang sudah lama diberahikan.

Memangpun sejak kebelakangan ini, Amir sering cuba merapati Mona. Pernah di suatu petang, Amir memelok pinggang Mona dari belakang. Sebagai gadis belasan tahun, Mona terasa keliru dan terlalu takut untuk bertindak. Manakala Amir pula semakin berani bertindak kerana tiada penentangan dari Mona. Namun
Amir cukup berhati hati hinggakan isterinya tidak sedikit pun menaruh syak wasangka.

Sebentar kemudian, kereta proton wira berwarna putih meluncur keluar meninggalkan Perhentian bas. Sepanjang perjalanan itu, tangan Amir sentiasa mengusap-usap paha Mona. Seperti biasa Mona kebingungan dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia cuma berharap agar cepat sampai ke rumah. Itu sajalah yang akan membebaskannya dari penindasan seksual yang Amir lakukan.

Pada malam itu Amir dah bertekad untuk menodai kesucian Mona. Lagipun dia rasa rugi sangat jika tak di sembelih.kijang yang dah pun termasuk ke dalam perangkap. Lauk yang kelihatan sebegitu enak takkan nak dibiarkan saja. Amir membelukkan keretanya ke jalan tanah merah di sebuah ladang kelapa sawit . Udah jauh daripada jalan besar, baru dia berhenti di bawah pokok-pokok kelapa sawit. Jam dah pukul 11.05 malam ketika itu. Lampu besar dimatikannya. Manakala lampu kecil di dalam kereta dinyalakan. Enjin dibiarkan hidup untuk menjana air-con.

Amir tersenyum panjang. Kini dia pasti betul Mona dah tak boleh lari dari perancangan maksiatnya. Sebaik sahaja Amir memberhentikan kereta tadi, dia dah mula bertubi tubi mencium Mona. Walaupun ciumannya tidak berbalas namun Amir tetap meneruskan kerakusannya. Bertubi tubi muka Mona dicium sampai dah mula naik kemerahan, Sambil itu, Amir mula bertindak mengambil kesempatan meraba dan meramas-ramas buah dada Mona.

Semasa Amir berbuat begitu, badan Mona mengeliat kuat. Nyata Mona tidak mengemari akan pelakuan Amir terhadapnya. Nafasnya keluar masuk.deras. Sekali-sekala dia menarik nafas panjang. Mulutnya mula merenget "Janganlah Abang…… Kenapa tak senonoh ni…. Mona tak nak begini….." .

"Es es es es es….. Mona ni cantiklah….", rengek dan bisek Amir sambil meramas-ramas buah dada Mona. Amir bertindak semakin liar. Dia mula membuka butang blaus Mona. Mona meronta ronta cuba menghalang. Namun ternyata Amir cukup faham dan mahir untuk membataskan penentangan Mona. Segera Amir meraba tetek Mona secara kulit ke kulit. Kalau tadi tetek Mona masih tersorok di dalam coli tapi kini nyata sudah terdedah. Hasil dari ketekunan usaha rabaan Amir, bra Mona terlucut entah ke mana. Kemerahan puting tetek Mona membuatkan Amir tersentak kekaguman. Jari Amir mula menyukat nyukat di serata pelusuk tetek Mona. Ternyata tetek Mona tidak besar tapi cukup istimewa untuk merangsang nafsu lelaki..

Perlahan lahan Amir merebahkan kerusi mereka berdua. Dengan pantas badannya merintangi pada bahagian pusat Mona. Amir berkedudukan mengereng dengan menghala pandangan ke arah kaki Mona. Amir bertindak begitu untuk membataskan ruang pergerakkan tangan Mona. Dengan itu tangan Mona kini hanya mampu mempertahankan auratnya setakat paras dada sahaja. Ternyata tindakan Amir itu adalah untuk mudahkan tangannya menjalar masuk ke dalam kain Mona. Kegelisahan Mona nampak semakin ketara apabila Amir mula menyingkap kain Mona. "Janganlah selak kain Mona…. Tolong jangan buat cam ni …. Mona malu..!!!" Dengan bersungguh sungguh Mona merayu kepada Amir. Nada suara Mona terketar ketar lain macam seolah olah ada sesuatu yang amat dirahsiakan.

Semakin Mona merayu semakin ghairah hajat Amir untuk menyingkap rahsia yang tersembunyi di dalam kain Mona. Sambil tangan kiri Amir menyelak kain Mona, tangan kanannya pula dengan mudah menyelok masuk ke dalam kain tersebut. Amir tidak membuangkan masa. Arah tuju tangannya ialah pada panties kat celah kangkang Mona. Sesampai tangannya di situ, Amir mengorak senyum lebar. Panties yang dijangkanya itu tidak langsung ditemui. Yang ada terpekap pada tapak tangannya hanyalah bulu bulu puki Mona.

Muka Mona pudar kerana malu yang tidak terhingga. Rahsia besarnya telah pun terbongkar. Pemberontakkan Mona mula longgar. Amir pula sebaliknya amat gembira dengan penemuan yang sama sekali di luar dugaan itu. Amir segera mengusap-usap bulu puki Mona. "Ooo… begini perangai Mona ye… Rupa rupanya Mona ni anak dara yang tak tahu pakai seluar dalam. Tahulah nasib Mona nanti bila abang hebohkan perkara ini… hahahaha….." Dengan bernada serious Amir mengugut Mona.

Terketer ketar lutut Mona mendengarkan kata kata Amir itu. Akal Mona kebinggungan dan buntu. Dia merasakan dirinya telah tewas kepada Amir. "Kesianlah pada Mona ni abang. Tolonglah jangan hebohkan rahsia ini. Mana Mona nak letakkan muka nanti." Dengan sayunya Mona menagih simpati dari Amir. "Mona sanggup ikut apa saja kemahuan abang, asalkan rahsia ini tidak terbocor." Bersungguh sungguh Mona mengemukakan kesanggupan pengabdian dirinya kepada Amir.

Amir mengorak senyum.yang bersaratkan kecenderungan maksiat. Mona kini sudah akur pada kekuasaan Amir. Burung idaman Amir sudah pun selamat masuk ke dalam perangkap. Amir segera mempamirkan penguasaannya. Dicakupnya rambut Mona dan menariknya ke bawah. Terdongak dagu Mona dibuatnya. "Mona dengar sini baik baik. Mulai saat ini, Mona mesti ikut segala perintah abang. Baik buruk arahan abang mestilah Mona patuhi, tanpa sebarang persoalan. Mona faham tak ….? " Tegas Amir sambil mempamirkan tanda tanda kekuasaan dengan menggoyang goyangkan rambut Mona yang dicakupnya itu. Amir yakin bahawa tiada lagi jalan keluar bagi Mona. Memang Amir akan jadikan Mona abdi untuk memenuhi hasrat durjananya.

Ya…. Mona faham segalanya. Mona bersumpah akan sentiasa taat pada abang. Apa saja yang abang suruh akan Mona lakukan." Di dalam serba kesakitan akibat rambutnya diorong sentap Mona melafazkan sumpah kesetiaan. "Baguslah jika Mona dah sedar hakikat ini. OK sekarang buka kangkang Mona seluas luas yang boleh." Tanpa berlengah Mona menunjukkan respon terhadap arahan Amir itu. Dengan se luas mungkin Mona membuka kangkangannya.

Amir menyantapkan matanya pada sekitar bahagaian di bawah pusat Mona yang sudah terdedah itu. Keindahan yang terserlah jelas menepati kehendak nafsu Amir. Lurah puki Mona yang berbulu nipis itu terpamir se nyata nyatanya pada keadaan Mona mengangkang sebegitu rupa. Mona terperanjat seketika apabila jari jari Amir mengukur jaluran lura pukinya. Ketembaman puki Mona itu amat menggeramkan Amir. Usapan Amir yang semakin kasar membuatkan Mona mula mendengus. Amir tidak hirau akan segala dengusan Mona dan dia teruskan asyik dengan tugasnya. Jejari Amir dengan rakus meneroka ke dalam lubang puki Mona. Ternyata lubang puki Mona sudah basah dan berlendir. Jari telunjuknya mencuit-cuit biji kelentit Mona. Semakin dicuit-cuit, semakin kembang ianya. Dan semakin kuat badan Mona mengeliat dan mulut mendengus.

"Mona masih dara lagi ke ?' Dengan penuh harapan Amir bertanya kepada Mona. Mona hanya mampu mengangguk-anggukkan kepalanya sahaja. Amir menyambut anggukan Mona dengan senyuman gembira.

Amir membuka zip seluar dan terus melucutkan seluar dan bajunya sendiri. Mona tercenggang memerhati Amir membogelkan pakaian. Inilah kali pertama Mona
melihat kebogelan tubuh seorang lelaki. Batang pelir Amir sudah cukup tegang dan keras. Desakkan syahwat Amir sudah cukup meluap luap. Dia tidak mahu banyak membuang masa. Puki perawan ayu yang berusia 20 tahun lebih muda itu dah terhidang di depan matanya. Dah lama Amir kepingan daging muda belasan tahun seperti Mona. Kali ini pucuk dicita ulam mendatang.

Bukan setakat puki muda tapi Mona juga memang memiliki paras rupa tinggi lampai yang cukup jelita. Kulit Mona halus dan putih melepak. Itu amat berbeza sekali dengan keadaan isteri Amir yang berkulit gelap dan dah tu pulak gemok pendek. Perkara yang di kira bonus berharga pada Amir ialah puki Mona yang masih suci itu.

Amir mula mengatur langkap untuk menakhodakan pelayaran junub. Perlahan lahan dia bergerak ke celah-celah paha Mona. Sambil bercelapak di situ Amir memperbetulkan kedudukannya supaya cukup selesa. Amir mencapai kedua belah pergelangan kaki Mona dan diangkat ke atas. Dengan segera Amir melipatkan sepasang kaki itu sehinggalah lutut Mona berkedudukan hampir ke paras tetek Mona sendiri.

Dengan kaki Mona yang dah terlipat ke atas sebegitu, tinggallah Puki Mona berkeadaan tersembul dan terkopak sejelas jelasnya. Amir meludah sedikit ke tapak tangannya. Jari jarinya yang basah itu disapukan pada lubang puki Mona. Amir monggosok gosok lubang puki Mona. Amir asyik dan seronok memberikan sentuhan sentuhan terakhir pada kedaraan puki Mona.

Mata Mona nampak kuyu dan hayal. Mulutnya ternganga sedikit sambil lidah Mona terjilat pelat pada bibirnya sendiri. Belaian jari jari Amir.telah membawakan suatu rasa kesedapan pada puki Mona. Batang Amir pula sudah cukup keras dan bertenaga. Amir mulai membasahi batang pelirnya dengan air liur. Apabila pasti cukup kelicinan, dia pun mengacukan kepala pelirnya pada gerbang lubang puki Mona. Perlahan lahan kepala pelir Amir menyondol nyondol dicelah tangkupan kelopak puki Mona. Bahan pelicin pada pelir dan puki mereka berdua ternyata mencukupi. Begitu mudah kepala pelir Amir menyondol sasaran. Takuk kepala pelirnya dah pun terbenam di celah alur puki Mona.

Amir berhenti sejenak untuk memerhatikan reaksi Mona. Ternyata Mona leka masih dibuai arus kesedapan. Amir pun terus memasukkan lagi pelirnya ke dalam lubang puki Mona. Tiba tiba pelir Amir rasa tersekat bagaikan ada suatu benteng yang menghalang kemaraannya. Amir mengorak senyum gembira. Dia tahu benar bahawa itulah benteng selaput dara Mona. Kepala pelir Amir dengan bertambah garangnya meneruskan hentakkan pada permukaan selaput lubang dara Mona.
Keasyikkan Mona seolah olah dikejutkan oleh sesuatu. Kolopak matanya terbeliak. Bibirnya terketar ketar. Belum pun sempat selaput dara Mona diranapkan, kat puki Mona dah mula disengat kesakitan. Amir menarik nafas panjang sebelum meneruskan kemaraan. Mona pun ikut sama menarik nafas panjang sebagai persediaan menghadapi sebarang kemungkinan.

Amir menolakkan lagi pelirnya ke dalam. Kali ini ia masuk sekerat batang. "Aduhhhh… Pedihnya kat puki Mona ni." Mona bersuara merenget kesakitan. Amir pun berehat seketika. Sambil berehat itu, tangannya terus meraba dan meramas buah dada Mona, adik iparnya itu. Amir menarik nafas lagi. Selang itu Mona sudah dapat mengagak tindakan Amir selanjutnya. Kepala lutut Mona menggigil ketakutan.

Dengan rakus kepala pelir Amir mengkejami puki Mona dengan menyondol masuk semahu yang mungkin. Bercerap selaput dara Mona diranapkan oleh pelir abang iparnya sendiri. Serentak dengan itu Mona terjerit lagi, "Sakit abangggg…. ! Tak muat…. Puki Mona dah koyak ni……. ." Amir terasa. tangan Mona menolak-nolak perutnya supaya pelir Amir tidak mara ke dalam lagi Namun usaha usaha Mona itu sudah terlambat. Seluruh kepanjangan 5 inchi pelir Amir dah pun selamat berkubang di dalam puki Mona.

Pada fikiran Amir, apa yang nak ditahan-tahan lagi, semua dah masuk. Dalam keadaan itu Amir mendakap Mona. Berdengu dengu Mona menanggis. Kesakitan di pukinya sungguh memeritkan. Sama sekali Mona tidak menduga pemecahan daranya mendatangkan kesan yang sebegitu rupa. Bontot Mona megeliat tak henti henti. Lubang pukinya yang sempit itu sedaya upaya cuba diselesakan untuk menampung pelir Amir.

Amir juga cuba bertindak untuk meringankan kesakitan pantat Mona. Mulut Amir digerakkan ke arah tetek Mona. Ianya singgah tepat pada puting sebelah kiri. Dengan penuh kepakaran lidah Amir mengelintir puting tetek Mona. Akibat dah terlalu geram Amir terus pula menyonyot buah dada Mona. Semakin dinyonyot semakin mengeliat badan Mona. Tangan Mona mula merangkul erat tengkuk Amir. Lendir lendir syahwat mula terbit membasahi lubang puki Mona. Sudah pasti keadaan ini menambahkan kelicinan dan kelazatan bagi pelir Amir untuk terus memasak kemaraan.

Punggung Amir mula turun naik. Ini maknanya, Amir sudah mula menghenjut. Namun begitu, mulutnya masih menyonyot puting tetek Mona. Teknik dua aktiviti yang berjalan serentak itu ternyata amat berkesan. Ia bukan saja berjaya melunturkan kesakitan pada puki Mona malah ia juga telah menyuntik limpahan kenikmatan yang tidak pernah dialaminya.

Tak lama kemudian, Mona merayu," Abangggg…, Mona dah tak tahan ni. OOOhhh…. Nikmatnya ….." Berdengus dengus Mona mengucapkan lafaz kesedapan yang dirasainya.

Amir terus-terusan menghenjut. Manakala badan Mona sudah mula meronta-rota. Tangannya pula terkapai-kapai. Nafasnya mula tersekat-sekat. Amir masih terus menghenjut. Tiba-tiba Amir mengerang kuat dan panjang. " Errrrrrrrrrrrrrrrrrrrrh ....... "

"Sedap sungguh berzina dengan Mona ni…. Tapi abang dah tak boleh tahan lagi… Abang mesti lepaskan nafsu ni kat dalam puki Mona." Sambil Amir terus menyambal lubang puki, Mona terangguk angguk menyatakan kerelaannya. Serentak dengan itu Amir pun menjerit menyambut kemuncak kesedapan. Air mani Amir yang dah seminggu bertakung itu pun meledak keluar. Lima das ledakkan padu dilepaskan oleh kepala pelir Amir. Kemudiannya diiringi pula beberapa das
ledakkan ringan. Kencing putih yang melekit lekit itu tersimbah dan terpalit dengan banyaknya pada pintu rahim Mona.

Amir tersungkur di dada Mona. Mona jadi lemah longlai. Begitu juga dengan Halim. Apa tidaknya, hampir setengah cawan air mani Amir dah terpancut ke dalam lubang puki Mona. Takungan air benih yang cukup likat memenuhi setiap rongga di dalam lubang puki Mona. Keseronokan berzina yang sebegitu rupa sudah pasti akan membuntingkan gadis yang sesubur Mona. Namun Mona sudah terlupa akan itu semua. Sinar kepuasan jelas terpancar pada pasangan yang baru selesai berzina itu. Raut wajah mereka tidak sedikit pun menampakkan sebarang penyesalan di atas perbuatan terkutuk itu.

Apabila Amir bertenaga semula, segera dia bangun. Dia beralih semula ke tempat duduknya. Batang pelirnya yang masih tegang itu didapati penuh bersalut beranika lendiran. Mona pula masih lagi terbaring mengangkang. Amir tunduk untuk meneliti keadaan lubang lubang puki Mona. Hanya beberapa titik air mani dapat dilihatnya pada belahan puki Mona. Tangan Amir membelek belek pada alur puki yang dah ternganga itu. "Arrrrr…. " Mona merengget kengiluan. Maklumlah puki Mona baru saja pecah dara. Jadi memanglah pukinya itu masih lagi terasa sengal. Perlahan lahan Amir membuka kelopak puki Mona untuk mencari sesuatu.

Lubang puki Mona ternganga membentuk bulatan seperti sebuah telaga. Di dalam telaga itu penuh berisikan kepekatan air mani Amir. Turut bercampur di dalam takungan itu, Amir dapati ada lendiran yang berwarna kemerahan. Maka ternyatalah bahawa dara Mona telah tumpas pada batang pelir Amir. Lantas dia tersenyum panjang dan kemudian mengucup bibir Mona.
Loading...
>>+

Sabtu, 01 Desember 2012

susan tubuhmu begitu indah

Kehidupan itu ada pasang surutnya, ketika saya sedang jaya, saya mempunyai client yang lumayan banyak untuk ukuran AE pemula di sebuah advertising.

Dan dengan ketekunan saya, perusahaan tempat saya bekerja mengalami kemajuan

pesat hingga mencapai Top 5 billing di semua stasiun TV. Dan kemudian bencana datang, Perusahaan tersebut bangkrut karena miss management.

Ditengah kesusahan datanglah tawaran dari Nancy, junior saya yang telah

pindah ke Gokil Advertising, dan mengenalkan saya dengan Ibu Susan, pemilik

perusahaan tersebut. Ibu Susan dipertengahan abad usianya, masih mempunyai tubuh yang terawat

dengan baik, body-nya tidak kalah dengan gadis-gadis yang masih muda yang

menjadi anak buahnya di Gokil Advertising.

Karena prestasi kerja saya yang baik, kami sering mengadakan meeting after

hours, dan progress kerja saya yang baik, membuat kami cukup akrab..tapi

pada suatu malam ada kejadian yang benar-benar mengubah hidup saya! Begini

anak-anak ceritanya..

Suatu malam, ketika karyawan lain telah pulang, Saya tengah memaparkarkan pendekatan saya terhadap satu perusahaan rokok

terkemuka, dan kemudian tiba-tiba Ibu Susan berkata,

"Waduh, kog punggungku gatal ya?"

Saya masih berusaha menahan diri untuk tidak terlalu cepat menolongnya,

takut nanti dianggap kurang ajar!

Semakin lama gatalnya sepertinya semakin bertambah,

"Tolong Dik Uki, bisa garuki punggung Ibu?"

Saya mengangguk dan berusaha membuang pikiran kotor saya, yang ingin sekali

rasanya mengetahui lebih dalam bentuk tubuh boss yang cantik dan keturunan

bangsawan ini..

Saya garuk pelan-pelan, tapi lebih tepatnya hanya mengusap-usap punggungnya

saja, takut kalau Ibu Susan kesakitan.

"Dik Uki, agak keras dikit, masih gatal lho Dik", pinta Ibu Susan.

Dan saya agak sedikit memantapkan tangan saya dipungungnya.

"Dik Uki, masih belum terasa, sebentar saya buka dulu blazer saya."

Dia langsung membuka blazernya, sehingga tinggalblouse-nya yang putih

dan transparan. Waduh semakin tidak tahan nih saya, karena kulit tengkuknya

yang mulus dengan sedikit rambut lembut yang tergerai di tengkuknya (Dia kalau ke kantor

selalu rambutnya disanggul di atas), semakin menambah feminin, dan semakin

membikin saya langsung terangsang.

Saya menggaruknya tetap tidak mau keras dan masih cenderung mengusap atau

membelai punggungnya, karena saya menikmati kehalusan kulit seorang bangsawan

yang berada dibalik bajunya yang tipis. Saya usap seluruh punggungnya dengan

pelan, ke atas dan ke bawah, ke kiri dan ke kanan, terkadang tangan saya,

saya telusupkan di bawah ketiaknya, untuk menggapai payudara yang di depan.

Dia menengadahkan kepalanya, dan menggeleng-gelengkan kepalanya ke

kiri dan ke kanan, sambil suaranya mendesah,

"Uuhh enak Dik Uki.. enaakk..uuhh.."

Mendengar desahannya yang merangsang, rudalku langsung tegak bak tugu Monas.

Sekujur tubuhku mulai menggigil dan seperti dialiri setrum listrik yang

halus merambat di sekujur tubuh dan terpusat di kemaluanku. Tenggorokanku

terasa kering, dan susah bicara, karena nafsuku yang langsung menggebu.

Baru kali ini saya bisa menikmati tubuh seorang bangsawan yang bersih,

terhormat dan sangat terjaga dari tangan laki-laki lain, selain suaminya.

Karena Dia duduk membelakangiku yang berdiri sambil memijit-mijit

punggungnya, batang kemaluanku langsung kutempelkan di punggungnya yang

lembut seperti sutera. Kugesek-gesekkan batang kemaluanku ke punggungnya

dengan pelan. Dan Dia berkali-kali melenguh,

"Uughh, enachh Dik, enaak, terus Dik."

Dia membimbing tanganku untuk mengusap dua gunung kembar yang

kencang dan kenyal. Kuusap payudaranya dengan lembut, kucium tengkuknya

dengan lembut, dan kugesekkan batang kemaluanku ke pungungnya dengan lembut.

Aku sangat tahu, kalau melayani tipe wanita seperti Dia ini harus

dengan lembut dan dengan menggunakan perasaan.

Kucium tengkuknya dengan lembut, Dia sekali lagi menengadahkan kepalanya

ke atas, matanya sambil terpejam, dan bibirnya yang tipis terbuka sedikit,

dan mulutnya hanya bergumam, "Emm." Aku tahu itu artinya dia sangat menikmati.

Tanganku, kuusapkan dengan lembut di sekeliling payudaranya, dan kulingkari

masing-masing payudaranya dengan kedua tanganku, sengaja aku tidak sentuhkan

tanganku ke pentilnya, untuk memberikan sensasi yang sangat halus dan perlahan.

Beberapa kali tanganku mengitari sekeliling payudaranya, kemudian perlahan-lahan

tanganku kutarik untuk mengusap pipinya. Kutengadahkan wajahnya, dan kucium

keningnya dengat lembut sekali. Aku bisa rasakan kelembutan nafasnya di

wajahku, bibirnya yang tipis masih mengeluarkan gumaman yang lembut,

"Dik Uki.. emm.. eemm.."

Dengan perlahan aku membalikkan badan Dia ke arahku, dengan cara memutar

kursinya, dan saya membimbing dia untuk berdiri dengan perlahan, kini aku

dan Dia sudah berhadapan, sama-sama berdiri, dadaku menempel ke dadanya,

dan aku bisa merasakan kekenyalan susunya, dan saya membayangkan betapa indahnya bukit kembarnya.

Tanganku kudekapkan ke pinggangnya, dan telapak tanganku kuusapkan ke pantatnya

yang juga sangat indah dan kencang. Tangannya memegang pundakku

dengan lembut, kepalanya sudah menengadah ke atas, dan tatapan matanya..

waduh, jernih dan indah menatap mataku tanpa berkedip. Kusentuh bibirnya

dengan lembut, kuusapkan perlahan bibirku ke bibirnya. Dia memberikan

reaksi dengan mengencangkan dekapannya ke pundakku dan dadanya ditempelkan

lekat ke dadaku, tanganku kudekapkan semakin erat ke pantatnya dan agak

kutarik ke atas pantatnya, sehingga kakinya agak diangkat ke atas. Waduh

ciumannya sangat lembut, perlahan-lahan kuusapkan lidahku ke lidahnya, dia

memberikan reaksi yang sama, menyapukan lidahnya ke seluruh mulutku. Tanganku

mulai mengusap-usap punggungnya naik turun dengan lembut. Aku menikmati sekali

kehalusan kulit punggungnya.

Setelah aku puas menciumi bibir, wajah dan pipinya, ciumanku perlahan-lahan

kuarahkan ke lehernya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri

dan ke kanan, matanya masih terpejam menikmati, nafasnya agak memburu, dan

mulutnya masih bergumam,

"Mmm.. uhh.."

Ciumanku mulai bergeser ke bawah, ke belahan dadanya. Kancing blousenya yang di depan dengan mudah kubuka

satu persatu, sehingga tersingkap sudah BH hitam yang menyangga dua buah

payudaranya yang padat, bulat, kenyal, bersih dan ranum. Kuciumi lehernya

dengan sangat lembut, ke pundaknya, bergesar turun ke sebelah atas payudara

yang tidak ditutup BH. Dia semakin menengadahkan kepalanya, punggungnya

juga semakin melengkung ke belakang, kedua tangannya memegang kepala saya

dan sedikit meremas rambut saya, tandanya semakin menikmati gaya permainanku.

Kedua tanganku memegangi dibawah kedua ketiaknya, biar Dia tidak

terjerembab ke belakang, tapi bibirku masih mengusap daerah leher dan di atas payudara.

Aku sengaja memperlama untuk menyentuh payudaranya, apalagi pentilnya.

"Diik..Ukii.. uugghh.. sstt", sambil mulutnya berdesis kenikmatan.

Blousenya yang masih menempel di pundaknya perlahan-lahan kulepaskan, sehingga

pemandangan kemulusan dan kemolekan tubuh Dia terpampang jelas di

hadapanku, dan terkena sinar lampu down light kekuningan yang berada di

langit-langit tepat di atas kami berdua, menambah romantisnya suasana malam

itu yang tidak akan pernah kulupakan. Sekali lagi tanganku kugunakan meremas

sebelah pinggir dari payudaranya, dan tampak bahwa payudaranya sudah mulai

mengeras.

Tanganku mengusap punggungnya dengan perlahan sambil membuka tali BH yang

ada di punggungnya. "Click" sekali jentik langsung terbuka pengait BH-nya.

dengan pelan kuturunkan tali BH yang ada di pundaknya, akhirnya BH-nya kulepas.

Woow, terlihat pemandangan indah sekali, dua gunung kembar yang kuning dan

bersih dengan puncaknya yang kecil yang sudah berdiri tegak. Aku sudah sangat

terangsang tapi aku tidak boleh gegabah. Kuusap payudaranya dari sebeleh

bawah dengan tangan kananku, tangan kiriku masih mendekap punggungnya untuk

menjaga agar Dia tidak terjatuh, dan kucium payudaranya, berkeliling

mengitari pentilnya, dan tangan kananku masih mengusap-usap sebelah luar

payudara, tapi dengan gaya agak memeras. Kedua tangan Dia memegang erat pundakku tanda sudah semakin gemes, untuk dicium pentilnya.

Karena aku sudah merasa waktunya tepat, maka dengan lembut kukulum pentilnya.

Dan reaksinya,

"Aaaughh, uuhh..ss.. uuhh",

Dia melenguh-lenguh dan mendesis-desis keenakan, seakan-akan yang dinantikannya telah tiba.

Meskipun kondisinya sangat terangsang, tapi lenguhan itu tetap lembut dan

terdengar lirih. Kukulum pentilnya, kugesek-gesek pentilnya dengan lidahku,

dan kugigit lembut pentilnya, tanganku tetap meremas-remas lembut payudaranya.

Setelah aku puas mempermainkan pentilnya kiri dan kanan bergantian, kulepaskan

bibirku dari susunya, dan kugeserkan mulutku ke bawah ke seputar perutnya

yang datar dan mengeluarkan aroma parfum yang lembut dan semerbak.

Ketika mulutku terlepas dari susunya, Dia kelihatan menghela napas lega dan

baru bisa bernafas dengan tenang. Aku menciumi perutnya dengan agak sedikit

jongkok. Kucium pusarnya, dan kujilati pusarnya dengan lidahku. Dia

menggelinjang kegelian. Karena terlalu lama berdiri atau karena sudah sangat

terangsang, Dia sudah tidak kuat berdiri dan dia bergeser ke belakang

duduk di meja kerjanya. Aku berdiri dengan kedua lututku dan aku tetap jilati

pusarnya dan perutnya. Dia menggelinjang kegelian, dan mengusap-usap

rambut kepalaku dengan tidak beraturan, terkadang meremas, menjambak dan

mengusap rambutku. Sehingga rambutku sangat kacau.

Puas dengan permainan perut, Dia kurebahkan di meja kerjanya. Untungya

meja kerja Dia cukup besar. Kupelorotkan rok bawahannya, sekaligus

dengan CD-nya. Sekarang tampak di hadapanku seorang putri yang kuning, bersih,

dengan kaki dan betis yang aduhai indah, terbujur pasrah di hadapanku.

Kunikmati tubuh Dia sebentar, karena selama ini aku hanya bisa membayangkan

keindahan tubuhnya, tanpa berharap untuk dapat memandangnya. Tapi ternyata

malam ini apa yang kudapatkan jauh dari yang kubayangkan. Seorang wanita

dengan tubuh montok dan kuning mulus, dengan kaki dan betis ramping. Dua

buah dada yang tidak terlalu besar, tapi bulat, padat dan kencang, sehingga

cocok dengan kesan payudara seorang putri. Bentuk lengan dan bahu yang padat

bulat dan berisi.

Dia telentang di atas meja di hadapanku, aku masih berdiri. Aku mencium

pipinya sekali lagi dengan lembut, kuusap payudaranya dengan lembut. Kedua

tangan Dia merangkul leherku dengan erat. Kedua kakinya bergerak-gerak

dengan halus pertanda sangat terangsang. Perlahan-lahan tanganku kugerakan

dari susunya turun ke perutnya. Kuusap sebentar perutnya dan bergerak turun

ke bawah mengusap pahanya. Paha yang selama ini hanya bisa kupandang. Aku

usap pahanya naik turun dengan tetap mulut kami masih saling memagut.

Erangan-erangan kecil keluar dari mulut Dia,

"Ugh.. ugh.. emm.. emm.."

Tanganku bergerak dari sekitar pahanya terus mengusap sekitar bibir kemaluannya.

Dengan perlahan kedua kaki Dia mengembang, memberi kesempatan tanganku

untuk mengelus kemaluannya. Tetapi kemaluannya belum kuelus, hanya kedua

selangkangan saja yang aku belai dengan kedua jari telunjuk dan jari manis

bersama-sama. Kuelus selangkangannya naik turun, dan Dia menambah

kecepatan gerakan kakinya. Dengan pelan Dia mengangkat pantatnya,

sehingga kemaluannya juga ikut naik. Aku tahu ini pertanda agar aku dapat

segera mengelus kemaluannya. Kuusap pelan dan dengan jarak sentuhan yang

kubuat serenggang mungkin antara bibir kemaluannya dan telapak tanganku,

membuat gelinjang Dia menaikkan kemaluannya untuk menyentuh tanganku

semakin tinggi.

Kubelai rambut kemaluannya yang lembut, tipis dan tertata rapi. Setelah

puas memainkan sekitar kemaluannya, dan liang kemaluan Dia sudah semakin

terbuka dan semakin basah. Kusentuh klitorisnya dengan sedikit ujung dari

jari tengahku dengan lembut dan.. "Uuhhgh", lenguhan Susan kenikmatan.

Gerakan kakinya sudah semakin tidak teratur. Tiba-tiba tanganku dijepit

dengan kedua pahanya.

"Diik Ukii.. aakkuu.. nggakk.. taahh.."

Kemudian tangannya menarik punggungku sebagai bertanda agar aku segera menaiki

tubuhnya. Kutarik kedua kakinya ke arah pinggir meja, sehingga kedua kakinya terjuntai,

kemudian Dia membuka kedua selangkangannya dengan tidak sabar. Aku

sempat memandangi kemaluannya, dan seakan liang kemaluannya merah seperti

bibir gadis yang memakai lipstik yang sedang merengek.

Kugesekkan batang kemaluanku pelan-pelan ke bibir kemaluannya, dan Dia

mengerang lagi,

"Uugghh.. uughhg.."

Kumasukkan dengan pelan batang kemaluanku ke liang kemaluannya. Belum sampai habis masuk semua, kutarik kembali dan

kumasukkan kembali. Dengan gesekan-gesekan yang pelan tersebut membuat erangan Dia semakin tidak beraturan.

Untuk melayani tipe seperti Dia ini, kugunakan gaya gesekan 5:1, artinya

lima kali keluar masuk setengah batang kemaluan, baru sekali masuk seluruh

batang kemaluan. Dan pada saat masuk yang seluruh batang kemaluan, erangan

Dia semakin hebat. Dengan gaya lembut dan 5:1 ini kami bisa saling

menikmati.

"Uuugghh.. acchh.. Diikk.. Ukii.. ucchh.. sstt.. uhh.."

Erangan erangan yang tidak beraturan tetapi artinya hanya satu yaitu Enak.

Sambil kugenjot pelan batang kemaluanku, kedua tanganku dengan leluasa meremas

kedua susunya, yang bergerak-gerak naik turun tergantung sodokanku.

Kadang-kadang tanganku mengusap wajah dan pipinya, kadang-kadang mengusap perutnya.

Setelah cukup lama aku melakukan genjotan 5:1, tiba tiba kedua paha Ibu

Susan diangkat dan dililitkan ke pinggangku. Kedua tangannya mendekap diriku,

mulutnya sedikit menganga dan mendesis..

"Diikk..Uuu..Ki.. saa..yaa saampaaii.. uuhhff."

Kupegangi pinggangnya untuk menekan liang kemaluannya ke batang kemaluanku. Setelah Dia selesai mengejang

an nafasnya tersengal-sengal, aku mulai lagi dengan genjotan, tetap dengan gaya 5:1.

Dia melenguh, "Uuff.. uff.. uuff.. Dik Uki beluumm yaa. Ayo donk.. uff.. uff jangan ditahaan.. uuff.. ugh.."

"Sebentar Bu!" kataku.

"Dik.. uhff, ceepetan dikit.. Dik.. ughf.. uhfgg.. aa.. ku mau uhgf uff uff.. keeluar.. laa.. ggii.."

"Sebentar Bu, aku juga sudah.. mma.. uu.. saammpai.."

Tiba-tiba ada aliran listrik menjalar dari ubun-ubun turun ke arah kemaluanku dan semakin-lama semakin mengencang. Batang kemaluanku seakan balon yang ditiup dan mau pecah.

"Aachghh.. accghh.. Buu.. Sussann.. aku mmau keluarr.."

Dia memegang erat tubuhku dan

"Crret.. crrett.." keluar semua cairan yang ada di seluruh tubuhku dan "Aaachh.."

Kami berdua terkulai lemas dengan badan penuh keringat dan nafas terengah-engah.

"Dik Uki, makasih ya Dik, kamu telah memberi saluran yang selama ini tersumbat."

Aku sangat puas malam itu, karena aku tidak dapat membayangkan, ternyata

aku bisa menikmati tubuh seorang wanita terhormat, yang selama ini orang

luar sangat menghormatinya, tapi ternyata malam ini dia begitu pasrah

menyerahkan tubuhnya kepadaku.

Jam telah menujukkan pukul 22.00 ketika permainan kami usai, dan kami berdua

segera masuk ke toilet untuk membersihkan dan merapikan badan kami masing-masing.

Dan sebelum pulang aku mendapat tugas baru dari Dia, yaitu membantu membersihkan cairan yang membasahi meja kerja Dia, dan membantu merapikannya. Sambil merapikan mejanya aku berbisik ke telinga Dia,

"Bu meja ini dirapikan ya.. karena besok malam mau dipakai lagi",

Dia hanya tersenyum dan mencubit mesra lenganku.

Hal tersebut kuulangi setiap ada kesempatan, baik di kantor ataupun di hotel,

tapi rahasia tersebut tidak terbongkar dan kami saling menjaga rahasia.

Dan kalau pagi hari, Dia kembali memerankan perannya sebagai atasan

yang berwibawa, profesional, tetapi kalau malam, melenguh-lenguh dan

menggelinjang-gelinjang di bawah selangkanganku.

Untuk lebih mengakrabkan hubungan kerja di kantor, teman-teman kantor

mengadakan acara pergi bersama ke tempat santai, yaitu di daerah pegunungan yang berhawa

dingin. Semua teman-teman kantor pada ikut, tidak terkecuali Dia.

Namun aturannya, bahwa semua karyawan dan karyawati harus ikut dan tidak

boleh bawa pacar, biar lebih bebas (pada saat itu kami semua belum berkeluarga,

kecuali Dia tentunya). Hanya Dia saja yang diperkecualikan untuk

membawa keluarga (dalam hati aku sangat kecewa, karena tidak bisa bebas

mendekati Dia, karena takut ada suaminya).

Pada hari Jum'at sore, setelah selesai tutup kantor, kita semua sudah berkumpul

di kantor untuk berangkat ke Puncak. Semua yang berangkat ada 17 orang

cowok-cewek termasuk aku, dan Dia bersama suaminya dengan membawa

2 anak kecil, yang ternyata keponakan Dia. Dalam hatiku kejengkelan

bertumpuk, karena Dia sudah bawa suami, tambah keponakan lagi, wuaahh

repot, pikirku saat itu. Untuk membawa ke Puncak, sudah dipersiapkan tiga mobil Panther yang dipakai

oleh karyawan dan satu Kijang yang dipakai oleh keluarga Dia, masing-masing

mobil sudah disediakan supir.

"Kalau 3 mobil nggak cukup, satu orang boleh dech ikut saya, atau biar Dik Uki saja yang ikut mobil saya", kata Dia kepada teman-teman, matanya sambil melihatku.

"Cerdik juga boss yang satu ini", pikirku, dan sangat halus sekali triknya.

Agar Dia tetap dekat denganku, tapi tidak terlalu mencolok, makanya pura-pura menawarkan tetapi langsung

menutup penawaran kepadaku.

"Ayo siapa yang ikut mobil Dia, biar aku yang di Panther aja", kataku pura-pura menawarkan kepada teman-teman, karena

aku tahu, pada tidak ada yang berani satu mobil dengan Dia, rata-rata

mereka pada sungkan.

"Udah dech, biar Uki aja yang ikut, sekali-kali kita kerjain, biar tahu rasa, gimana rasanya satu mobil dengan Dia, mungkin sampai di tempatnya UKi sudah tegang nggak bisa bergerak", kata Nancy temanku

sambil tertawa kecil mau mengerjai aku.

"Ya bener, sampai di tempat aku bisa tegang, tapi bukan tegang karena sungkan, tapi tegang karena nggak

tahan aja berdekatan dengan Dia", kataku dalam hati, dan yang tegang

hanya tertentu saja, tidak seluruh badan.

"Jangan aku dong, yang cewek aja", pintaku berpura-pura.

Tapi teman-temanku langsung lari berebut mobil masing-masing, an akhirnya aku jalan juga ke mobil Dia, dan sekali lagi pura-pura mengumpat mereka.

Suami Dia hanya senyum-senyum melihat kelakuan kami. Oh ya, aku belum

kenalin sama suami Dia. Namanya sebut saja Pak Jimmy, orangnya besar,

gagah dan ganteng (kata teman-teman cewek) dan agak pendiam. Wajahnya mirip

dengan Rudi Salam. Pak Jimmy duduk di jok depan dengan supir. Sedangkan Dia, kedua keponakan
yang masih kecil dan aku duduk di jok tengah. Jok belakang penuh dengan

perbekalan. Begitu aku duduk di mobil, pertama yang kulakukan adalah

mempelajari situasi mobil. Posisi kaca spion, dan posisi duduk supir dan posisi duduk

Pak Jimmy. Sekiranya memungkinkan untuk melakukan serangan awal terhadap

Dia. Dan ternyata masih memungkinkan kalau hanya sekedar serangan-serangan

ringan. Sorry agak kampungan sedikit melakukan serangan ringan di mobil,
habis kukira siapa pun akan sayang membiarkan tangan ini tidak bersinggungan

dengan kemulusan tubuh Dia yang memang sintal, padat dan berisi.

Di perjalanan, Pak Jimmy banyak membaca buku, jadi tidak banyak pembicaraan

kami dengan Pak Jimmy. Dia duduk di sebelah kanan, aku duduk di sebelah

kiri, dan kedua keponakan duduk di antara kami. Sehingga kami cukup leluasa

kalau hanya melakukan cubitan-cubitan kecil di pinggang Dia, kadang

sedikit elusan di pantatnya, maupun pinggangnya. Tapi sebaliknya, tangan

Dia terkadang juga memberikan cubitan halus di pinggangku. Dan setiap

kali aku dicubit, rudalku langsung sudah siap mencari sasaran (maklum usia

masih dalam taraf Pandangan Hidup!Baru memandang sudah hidup).

Setiap kali kusentuh pinggang atau pantatnya, kelihatan Dia agak menghela

nafas, dan wajahnya menunjukkan sedikit tegang. Memang kuakui kalau Ibu

Susan itu tegangan tinggi juga. Tidak ada yang istimewa yang perlu diceritakan

dalam perjalanan, karena jarak kantor kami dengan Puncak tidak lebih dari

50 km, sehingga perjalanan cukup ditempuh tidak lebih dari 40 menit.

Menjelang Maghrib kami semua sudah sampai di Hotel, setelah mandi dan istirahat

sebentar, malam kita gunakan untuk bercanda ria dan menikmati santap malam

Kambing Guling. Kami semua menikmati acara tersebut, kecuali Pak Jimmy.

Dengan alasan mengantuk, maka Pak Jimmy tidak ikut bersama-sama dengan kami.

Dia lebih suka makan di kamar dan akhirnya tertidur. Tinggallah kami semua

dan Dia bercanda ria.

Setelah selesai makan, kami berpencar berkelompok-kelompok. Ada yang bercerita

berkelompok, ada yang jalan-jalan menikmati malam, dan ada yang sekedar

memainkan gitar, dengan lagu-lagu tahun 70-an.

Dia memberi kode ke aku untuk mendekat, dan dia berbisik,

"Dik Uki, anterin saya jalan ya."

"Lha Pak Jimmy?" tanyaku terkejut.

"Udah dech, nggak usah pikirin Pak Jimmy, dia sudah tidur."

"Bu, Pak Jimmy bener sudah tidur?" tanyaku menyelidik.

"Ya begitulah suamiku, dia lebih suka menyendiri dan pasti dia sudah tidur",

kata Dia.

Kami berjalan berdua, dan kami saling membisu. Aku masih diliputi perasaan

takut kalau suaminya tahu, dan pikiranku terus berputar, kuajak kemana ibu

Susan ini.

"Kalau tahu kita berdua gini, gimana Bu", tanyaku memecah kebisuan.

"Dik Uki nggak usah takut, dia percaya kok sama kamu, dikirain kamu kan

masih kecil, masak mau ngapa-ngapain sama aku."

"Ya masih kecil, tapi si kecil ini kan sudah bisa gede, dan bisa membuat

anak kecil", jawabku menggoda.

Dia hanya terseyum dan mencubit pinggangku. Kutangkap tangannya dan

kutarik badannya, sehingga kami jalan berdekapan.

Aku berjalan di sebelah kiri Dia, sehingga tangan kananku dengan leluasa

mendekap pundak Dia, untuk melindungi dari hawa malam yang cukup dingin.

Kami berdua berjalan, aku tahu betul liku-liku jalan di Puncak ini, maka

kubawa Dia di tempat yang sangat aman. Kudekap badannya, kubelai-belai

punggungnya, sambil sesekali kucium telinganya. Perempuan cantik ini mendesah

mengeratkan dekapannya ke tubuhku.

Tangan kiriku mengusap-usap buah dadanya yang kenyal dan padat di balik

baju sweaternya, dan sedikit kuremas, sedangkan tangan kananku untuk meremas

pantatnya yang bundar dan padat. Ciumanku berkali-kali kudaratkan pada tengkuk

dan belakang telinganya. Turun ke pipi, dan akhirnya kami saling berhadapan

dan berdekapan. Kuciumi dengan halus pipinya, turun ke bibirnya. Kukulum

lidahnya, dan bibir kami saling berpadu. Nafas kami berdua sudah

mulai tidak beraturan.

Kedua tanganku kudekapkan erat di punggung Dia, tangan kiriku kugunakan

untuk mendekap pantatnya dan sedikit kutekan, sehingga kekenyalan batang

kemaluanku dapat dirasakan oleh kewanitaannya, dan aku mulai geser-geserkan

kemaluanku di kewanitaannya. Sedangkan tangan kananku kutelusupkan di bawah

sweaternya, untuk mengusap kulit punggungnya yang halus, lembut dan sudah

mulai hangat oleh birahi.

Udara malam semakin dingin, tetapi badan kami berdua sudah semakin panas.

Kami berdua sudah tidak tahan untuk tidak menyelesaikan permainan ini, karena

serangan-serangan awal sudah dimulai sejak tadi sore, ketika dalam perjalanan.

"Dik Uki kita cari tempat yang enak aja Dik", bisik Dia sambil mendesah

menahan birahi.

"Nanti kelamaan, Bu? gimana kalau Pak Jimmy bangun?"

"Dik Uki tenang saja, suamiku itu kalau tidur lama kok, dan nggak pernah

bangun, dan nanti seandainya bangun, gampang kok aku cari alasan."

"Oke dech Bu, yuk kita jalan."

Aku bimbing Dia ke arah hotel yang dekat. Aku tahu persis tempat di

sini yang nyaman buat bossku yang cantik. Hanya lima menit perjalanan kaki kami sudah sampai di hotel yang mungil,

tapi sangat bersih dan aman. Kami memesan kamar yang nyaman. Petugas receptionist

sepertinya mengerti benar kebutuhan kami. Tidak banyak pertanyaan dan langsung

mengantar ke kamar yang kami maksud.

Di dalam kamar, setelah pintu kami kunci, Dia langsung melepaskan

baju sweaternya. Sehingga tinggallah kaus singlet yang tipis dengan belahan

dada agak lebar. Dipadu dengan celana jeans ketat di bawah lutut, sehingga

pinggulnya kelihatan sangat bundar dan padat.

Kami berdua langsung berdekapan. Nafas kami berdua sudah memburu. Wajah

Dia agak menengadah, menunggu ciuman. Matanya sedikit terpejam dan

bibirnya yang tipis sedikit terbuka. Kulumatkan bibir tipis yang sedikit

terbuka. Kuhisap lidahnya, kumainkan lidahnya dengan lidahku dan kueratkan

dekapanku di punggungnya.

Lama kami menikmati ciuman itu. Baru setelah aku puas menikmati bibir yang

tipis, kugeserkan mulutku turun ke lehernya. Aku sangat menikmati ciuman

di leher ini. Karena menurutku leher Dia itu sangat seksi. Lehernya

agak tinggi, dengan kulit yang mulus, dan padat berisi. Sehingga lidahku

menari-nari di lehernya.

"Uhf.. uuhh.. sstt, Diikk Uki, awaas hati-hatii, janggann sampai membekas.."

Nafas Mbak Tatik mulai tidak teratur. Dia ini kalau penampilan luar

sangat anggun dan tenang, tetapi kalau birahinya sudah mulai naik, dia bisa

sangat liar, meskipun tidak sampai teriak-teriak. Dan bossku ini memiliki

tegangan sangat tinggi. Baru disentuh sedikit saja, nafasnya sudah tidak

karuan.

"Mmeemm, jangan khawatirr.. Buu", jawabku menenangkan.

Ciumanku sudah mulai turun ke sebelah atas dari buah dadanya. Kuciumi ke

dua buah dadanya yang ranum, meskipun masih terhalang kaos dan BH. Dia

semakin menengadah, dan kepalanya mendongak ke belakang, dengan mata terpejam,

dan mulut masih bergumam.

"Emm.. uugghh.. Diikk Ukii.. uugghh.."

Kelihatannya Dia sudah mulai tak sabar, dia lepaskan sendiri singletnya,

kemudian BH-nya juga dilepaskan sendiri. Sehingga dengan jelas kedua bukit

bundar, kencang, dengan kedua putingnya yang bulat kecil berwarna coklat

yang sudah tegak. Kedua susunya bergoyang-goyang sebagai akibat goyangan

badannya yang mulai terangsang hebat. Tiba-tiba tangan kanannya memegang kemaluanku yang dari tadi sudah

tegak, dan meremasnya karena sudah gemes.

"Uuhh, mm.. janngan kenceng.. kenceng dong umm, Sakiitt..

mm", teriakku masih sambil menciumi perutnya.

"Sstt.. ggeemess kok.. Diik.. ugghh.."

Karena Dia sering menggerak-gerakkan badannya ke belakang, dan sering

mendongak, maka susunya terlihat bergoyang-goyang, tapi aku harus menahan

badannya dengan kuat supaya tidak jatuh ke belakang. Kuhela Dia dengan kedua

tanganku, dan Dia mendekapkan kedua tangannya di leherku, dia tersenyum

menggoda, kucium susunya, dan sekali lagi dia menggelinjang. Kutidurkan Dia dengan perlahan di atas ranjang. Dia masih memejamkan matanya. Kucium sekali lagi bibirnya, sambil kuusap pipinya dengan tangan

kananku. Aku masih menikmati bibirnya, tapi tanganku sudah mulai bergeser

ke lehernya, turun ke bawah, melingkari lingkaran luar susunya. Kuremas-remas

susunya dengan lembut. Dia semakin menggelinjang. Tangan kirinya mendekap

leherku, dan tangan kanannya menjambak-jambak rambutku. Kedua kakinya
bergerak-gerak tidak karuan di atas ranjang, membuat spreinya sudah tidak beraturan lagi.

Ciumanku kugeser ke leher, dan terus turun ke bawah, kulingkari kedua

payudaranya dengan ciumanku. Aku cium payudara kiri, sedangkan payudara yang sebelah

kanan tetap kuremas-remas dengan tangan kananku.

"Uuughh.. hh.. sstt.." desis Dia menahan rangsangan.

Kuhentikan ciumanku sebentar, karena aku mau melepaskan Jeans-nya. Gila, sepasang kaki indah

dibalik celana jeans mulai kelihatan. Kuturunkan perlahan-lahan celana

jeans-nya, dan akhrinya CD-nya juga kuturunkan sekalian. Nampaklah kemaluan Dia

yang padat berisi dengan belahan indah di tengahnya. Rambut halus dan hitam

pekat menghiasi kemaluannya, kontras dengan warna kulit kemaluannya yang

kuning langsat.

Aku kembali menciumi sekeliling pusarnya, dan kumainkan pusarnya dengan

lidahku, sementara tangan kananku membelai kedua pahanya, yang padat dan

mulus. Kuusap-usapkan dengan lembut kedua pahanya, dan selangkangannya.

Selangkangan yang kanan dengan jari manis, dan selangkangan kiri dengan

telunjuk, kuusapkan secara bersama-sama. Kulingkari sekitar kemaluannya

dengan jari-jariku. Aku selalu menghindari untuk menyentuh

klitorisnya sampai menunggu waktu yang tepat.

Kedua kakinya bergoyang-goyang tidak karuan, pinggulnya juga bergoyang-goyang

naik turun, minta klitorisnya disentuh, tapi aku tetap hanya menyentuh tepian

dari kemaluannya dengan lembut. Setelah puas menciumi pusarnya, kunaikkan

bibirku kembali menciumi lingkaran susunya, baru setelah puas, bibirku

kusentuhkan dengan pentilnya, bersamaan dengan jari tengahku menyentuh klitorisnya.

Menerima perlakuanku seperti itu, dia langsung menarik nafasnya lega, seakan

terpenuhi apa yang diharapkan selama ini, sampai melenguh,

"Uuugh nikmat Dikk Ukii.. uughh.. enakkghk sekali..hhnn sstt.."

Bersamaan dengan lenguhan tersebut, Dia mengeratkan dekapannya di

leherku, dan tanganku dicepitnya dengan kedua kakinya. Liang kemaluannya

telah sangat basah dan sudah sangat merekah, seakan-akan sudah menunggu

pisang yang akan dilahapnya.

Aku masih mengulum pentilnya bergantian kiri dan kanan, sementara ujung

jari tengah tangan kananku masih membelai-belai kitorisnya dengan lembut.

Dalam mengusap klitoris ini harus hati-hati, jangan sampai penuh dengan

tekanan, hal ini sangat disukai oleh Dia. Kedua kakinya sudah tidak

menjepit tangan kananku lagi, tetapi sudah telentang, sehingga liang

kemaluannya merekah dengan lebar, dan tanganku dengan leluasa mengusap klitorisnya dan

bibir kemaluannya.

"Uuughhff.. uugghh eff.. Diikk..Ukii.. eennaakk.. sekalii.. Diikk.. uugghff.."

Lenguhannya yang manja, dan merengek-rengek semakin menambah naiknya birahiku.

Aku terus mempermainkan ujung jari tengahku di klitorisnya, dan kurasakan

kewanitaannya semakin basah.

"Diik.. Ukii.. uugghff masukiin, Dik.. akuu sudaah tiidakk tahaan.. uugghhff.."

Rengeknya dengan memelas, kuhentikan ciumanku dan kuhentikan juga usapan di klitorisnya. Aku berdiri dengan kedua lututku di antara selangkangannya, kuletakkan kedua kaki Dia di pundakku,

dengan perlahan-lahan kuusapkan kepala kemaluanku dengan bibir kemaluannya.

Kelihatannya dia sudah tidak sabar untuk menerima batang kemaluanku di liang

kemaluannya, karena kedua tangannya memegang pantatku dan menekan pantatku

masuk ke lubang kemaluannya.

Kumasukkan perlahan-lahan batang kemaluanku memasuki laing kewanitaannya.

Mulai dari kepala terus perlahan akhirnya sampai mentok habis ke pangkalnya.

Dia sangat menikmati masukan pertama batang kemaluanku. Pada saat

batang kemaluanku memasuki lubang kewanitaannya dengan perlahan, dia sangat

menikmati dan mengerang dengan lenguhan yang tak berarti.

"Uuugghh.. uuhhgghh",

seakan-akan merasa sangat lega, bagaikan orang haus di padang pasir, diberi air es yang sangat dingin.

"Uugghh.. eehh.."

Kugeser-geserkan batang kemaluanku ke seluruh permukaan liang kemaluannya ke kiri dan ke kanan. Tetap dengan gaya yang khusus buat Dia, yaitu 5:1.

Pada saat 5 tusukan pertama, di mana hanya setengah batang kemaluan yang

masuk ke liang kemaluan, dia menikmati rangsangan yang ada sekeliling permukaan

liang kemaluan, maka dia hanya bergumam, "Eeemm eemm.. sstt.. eemm.."

namun pada saat 1 tusukan terakhir, di mana seluruh batang kemaluan masuk

ke dalam dan menyentuh dasar liang kemaluannya yang menikmatinya dan

mengencangkan jepitan lubang kemaluannya ke batang kemaluanku, kedua kakinya menjepit

leherku, dan kedua tangannya meremas sprei dengan kencang, dan semua badannya

kelihatan mengejang, dan keluar lenguhan berat dari mulutnya

"Uughh..uugghh.. ennaggk Diikk..Uki.. eennakgg.."

Kami terus gunakan gaya 5:1 ini berulang-ulang sampai akhirnya..

"Diikk.. Uki.. akuu suudahh tiidaak kuatt..akuumauu.. keeluuarr.."

"Seebenntarr.. Buu, aakuu.. juggaa mauu keleuaarr.." jawabku.

Dan untuk menjaga agar kami tetap keluar bersama, maka aku sedikit kencangkan

genjotanku ke liang kemaluannya, dan tiba-tiba.. liang kemaluan Dia

bergerak-gerak, menghisap batang kemaluanku. Nah ini yang kutunggu, hisapan

an sedotan liang kemaluannya sangat kuat di batang kemaluanku, dan tiba

-tiba..

"Diikk.. Ukii.. aakuu keluuarr.."

dan dalam waktu yang bersamaan, batang kemaluanku juga terasa mau jebol dan..

"Aauughh.. crreett.. creett.. creet",

tumpah semua cairan di tubuhku di liang kemaluannya,

dan liang kemaluannya masih bergerak-gerak menghisap batang kemaluanku dan

memberikan sensasi yang tidak dapat terlupakan.

Badan kami berdua lemas sekali dan berkeringat. Aku suka sekali melihat

badannya basah oleh keringat, menambah keseksian tubuhnya. Kami berdua

berdekapan sebentar, dan akhirnya bersiap-siap kembali ke teman-teman.

Semenjak saat itu tidak ada tempat yang tidak kami coba untuk jelajahi,

untuk melepas kerinduan kami "menjelajahi" tubuh masing-masing! Sampai

sekarang, saya telah menjadi salah seorang direktur dan mendapatkan saham yang cukup

lumayan! Hidup adalah seperti roda, saya telah mengalaminya!


sumber